Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    Cara Bijak Memarahi Anak

    Share

    bundaalifah
    Newbie
    Newbie

    Jumlah posting : 34
    HP : 0
    Reputation : 0
    Registration date : 10.02.09
    Age : 35
    Lokasipesanggrahan-selatan jakarta

    Cara Bijak Memarahi Anak

    Post by bundaalifah on Fri Feb 13, 2009 8:35 am

    Sebagaimana senyuman yang damai, kadang kita harus memarahi anak. Ini bukan berarti kita meninggalkan kelembutan, sebab memarahi dan sikap lemah-lembut bukanlah dua hal yang bertentangan. Lemah-lembut merupakan kualitas sikap, sebagai sifat dari apa yang kita lakukan. Sedangkan memarahi -bukan marah-merupakan tindakan. Orang bisa saja bersikap kasar, meskipun dia sedang bermesraan dengan istrinya.

    Persoalan kemudian, kita acapkali tidak bisa meredakan emosi pada saat menghadapi perilaku anak yang menjengkelkan. Kita menegur anak bukan karena ingin meluruskan kesalahan, tetapi karena ingin meluapkan amarah dan kejengkelan. Tidak mudah memang, tetapi kita perlu terus-menerus belajar meredakan emosi saat menghadapi anak, utamanya saat menghadapi perilaku mereka yang membuat kita ingin berteriak dan membelalak. Jika tidak, teguran kita akan tidak efektif. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka justru semakin menunjukkan "kenakalannya".

    Sekali lagi, betapa pun sulit dan masih sering gagal, kita perlu berusaha untuk menenangkan emosi saat menghadapi anak sebelum kita menegur mereka, sebelum kita memarahi mereka.

    Selebihnya, ada beberapa catatan yang bisa kita perhatikan: Ajarkan Kepada Mereka Konsekuensi, Bukan Ancaman

    Anak-anak belajar dari kita. Mereka suka mengancam karena kita sering menghadapi mereka dengan gaya mengancam. Mereka melihat bahwa dengan cara mengancam, apa yang diinginkannya dapat tercapai. Dari kita, mereka juga belajar meluapkan kemarahannya untuk menunjukkan "keakuannya".

    Saya tidak memungkiri, banyak pengaruh luar yang bisa mengubah perilaku anak. Teman-teman sebaya, khususnya yang sangat akrab dengan anak, bisa mempengaruhi anak. Ia meniru temannya dari cara bicara, bertindak, mengekspresikan kemarahan, sampai dengan kata-kata yang diucapkan. Kadang anak memahami apa yang dikatakan, tetapi terkadang anak tidak tahu apa maksudnya. Ia hanya menirukan apa yang didengar.

    Perbincangan kita kali ini bukanlah tentang peniruan. Karena itu marilah kita kembali berbincang bersama bagaimana ancaman kepada anak, acapkali tidak menghasilkan perubahan yang baik. Ancaman tidak banyak bermanfaat untuk menghentikan kenakalan anak atau perilaku yang membuat kita sewot. Sebaliknya, ancaman justru membuat anak belajar berontak dan menentang.

    Salah satu sebabnya, anak merasa orangtua tidak menyayangi ketika kita meneriakkan ancaman di telinga mereka. Selain itu, kita sering lupa menunjukkan apa yang seharusnya dikerjakan anak manakala kita asyik melontarkan ancaman.

    Lalu apa yang perlu kita lakukan?

    Pertama, kita kembali pada prinsip qubhunal 'iqab bila bayan. Adalah buruk menyiksa tanpa memberikan penjelasan. Sekali waktu kita perlu duduk bersama dalam suasana yang mesra dengan anak untuk berbicara tentang aturan-aturan.

    Kedua, kita bisa membuat komitmen bersama dengan anak untuk mematuhi aturan. Misalnya, mintalah kepada anak agar tenang ketika ada tamu. Kalau ada yang perlu disampaikan, atau anak menginginkan sesuatu, hendaknya menyampaikan kepada orangtua dengan baik-baik dan bersabar bila belum bisa memenuhinya.

    Bersama dengan komitmen ini kita bisa membicarakan dengan anak konsekuensi apa yang bisa diterima bila anak mengamuk di saat ada tamu. Sekali lagi, konsekuensi ini disampaikan dengan nada yang akrab. Bukan ancaman.

    Bila anak melakukan hal-hal negatif yang sangat mengganggu, orangtua bisa mengingatkan kembali kepada anak dan lagi-lagi tidak dengan nada mengancam. Di sinilah letak beratnya. Kita acapkali mudah kehilangan kendali. Kita mudah membelalak saat marah, tetapi lupa untuk konsisten.

    Astaghfirullahal 'adzim. "Ibu Sudah Bilang Berkali-kali."

    Perilaku yang menjengkelkan memang lebih mudah diingat, lebih membekas dan cenderung menggerakkan kita untuk segera bertindak. Sebaliknya perilaku positif cenderung kurang bisa mendorong kita untuk memberi komentar, kecuali jika perilaku tersebut benar-benar sangat mengesankan. Konsumen yang kecewa pada suatu produk, akan segera menggerutu ke sana kemari, meski kekecewaan itu sebenarnya tidak seberapa. Tetapi konsumen yang puas cenderung akan diam saja, kecuali jika kepuasan itu sangat menakjubkan. Orangtua dan anak juga demikian. Orangtua mudah ingat perilaku negatif anak, sementara anak mungkin tidak bisa melupakan tindakan orangtua yang menyakitkan hatinya.

    Salah satu kebiasaan umum orangtua yang menyakitkan hati anak sehingga bisa melemahkan citra dirinya adalah ungkapan, "Ibu sudah berkali-kali bilang, tapi kamu tidak mau mendengarkan."

    Ungkapan ini memang efektif untuk membuat anak diam menunduk. Tetapi ia diam karena harga dirinya jatuh, bukan karena menyadari kesalahan. Jika ini sering terjadi, anak akan memiliki citra diri yang buruk. Dampak selanjutnya, konsep diri dan harga diri (self esteem) anak akan lemah. Anak melihat belajar memandang dirinya secara negatif, sehingga lupa dengan berbagai kebaikan dan keunggulan yang ia miliki. Sebaliknya orangtua juga demikian, semakin sering berkata seperti itu kepada anak, kita akan semakin mudah bereaksi secara impulsif. Kita semakin percaya pada anggapan sendiri bahwa anak-anak kita memang bandel, menjengkelkan dan susah dinasehati.

    Tidak mudah memang, tetapi kebiasaan memarahi anak dengan ungkapan "Bapak kan sudah bilang berkali-kali" atau yang sejenis dengan itu, harus kita kikis secara sadar dari sekarang. Kita perlu menguatkan tekad untuk berkata yang lebih positif, betapa pun hampir setiap komentar kita masih buruk.

    Jangan Cela Dirinya, Cukup Perilakunya Saja

    Suatu saat, kira-kira jam setengah dua dini hari seorang anak saya bangun dari tidurnya. Ia kemudian beranjak dan mengajak adiknya yang masih bayi bercanda, padahal adiknya baru saja tertidur. Sebagaimana ibunya, saya juga sempat emosi. Hampir-hampir saya tidak dapat mengendalikan emosi, tetapi saya segera tersadar bahwa yang dilakukan oleh anak saya merupakan cerminan dari dari rasa sayangnya kepada adik. Nah, apa yang terjadi jika saya mencela anak saya? Apalagi kalau saya memelototi dan menghardiknya keras-keras, iktikad baik itu bisa berubah menjadi kemarahan sehingga anak justru mengembangkan permusuhan kepada adiknya. Ia bisa belajar membenci adiknya.

    Apa yang saya ceritakan hanyalah sekedar contoh. Tidak jarang anak menampakkan perilaku "negatif", padahal ia tidak bermaksud demikian.

    Suatu ketika, pulang dari play-group anak saya berkata, "Bapak kurang ajar." Setelah saya tanya maksudnya, ternyata dia tidak mengerti makna kurang ajar. Ia mengatakan, "Kurang ajar itu ya main-main, sembunyi-sembunyian."

    Kita sangat mudah keliru menangkap maksud anak. Kita gampang terjebak dengan apa yang kita lihat. Karenanya kita perlu belajar untuk lebih terkendali dalam menilai anak. Jangan sampai terjadi anak punya maksud baik, tetapi justru kita cela dirinya sehingga justru mematikan inisiatif-insiatif positifnya. Bahkan andaikan ia memang melakukan tindakan yang negatif, dan ia tahu tindakannya kurang baik, yang kita perlukan adalah menunjukkan bahwa ia seharusnya bertindak positif. Kita luruskan perilakunya. Bukan mencela dirinya. Sibuk mencela anak membuat kita lupa untuk bertanya, "Kenapa anak saya berbuat demikian?" Di samping itu, celaan pada diri -dan bukan pada tindakan-bisa melemahkan citra diri, harga diri dan percaya diri anak. Pada gilirannya, anak memiliki motivasi yang rapuh. Na'udzubillahi min dzalik.

    Sebagian kita merasa tidak merasa mencela anak, padahal ucapan kita menyudutkan anak. Misalnya, "Kamu kenapa tidak mau mendengar nasehat bapak? Heh? Kamu selalu saja ngeyel."

    Pada ucapan ini, fokus kemarahan kita adalah anak sebagaimana kita tunjukkan dengan kata kamu. Bukan tindakannya yang salah.

    Jangan Katakan "Jangan"

    Barangkali tidak ada kata yang lebih sering diucapkan oleh orangtua pada anak melebihi kata "jangan". Kita menggunakan kata "jangan" begitu melihat anak melakukan tindakan yang kurang kita sukai. Kita juga menggunakan kata "jangan", bahkan di saat kita mengharap anak melakukan yang lain.

    Padahal kata "jangan" tidak membuat mudah mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Akibatnya, anak sulit memenuhi harapan orangtua, sementara orangtua bisa semakin jengkel karena merasa nasehatnya tidak didengar anak. Orangtua merasa anaknya suka ngeyel (kepala batu, orang Bugis bilang).

    Lalu, apakah kita tidak boleh memberi larangan? Saya tidak dapat membayangkan betapa hancurnya sebuah dunia tanpa ada larangan sama sekali.

    Begitu pun keluarga. Tetapi bercermin pada Nabi, jangan katakan "jangan" pada saat ia sedang melakukan kesalahan. Tunjukkanlah apa yang seharusnya dilakukan. Atau bersabarlah sampai ia menyelesaikan maksudnya, sebagaimana ketika seorang Badui di zaman Nabi kedapatan kencing di masjid. Kalau kita tidak mau anak bermain pasir di teras, katakanlah, "Nak, main pasirnya di teras saja, ya?" Singkat, padat, jelas dan positif. Bukan, "Ayo, jangan main pasir di teras. Saya pukul kamu nanti."

    Kapan sebaiknya kita sampaikan larangan? Saat terbaik adalah ketika anak sedang akrab dengan orangtua. Dalam suasana netral, larangan yang kita berikan pada anak akan lebih efektif. Anak lebih mudah memahami. Mereka bisa menerimanya sebagai aturan. Bukan menganggapnya sebagai serangan kepada dirinya.

    Khusus mengenai bagaimana melarang anak, insya-Allah akan kita perbincangkan pada kesempatan lain. Kali ini, kita perlu untuk beristighfar atas keruhnya hati dan sikap isti'jal (tergesa-gesa). Semoga Allah memberi ketenangan, kelembutan dan kejernihan niat. Semoga Allah lindungi iman kita dan anak-anak kita, sehingga tidaklah kita mati kecuali dalam keadaan ridha kepada Allah dan Allah ridha kepada kita. Allahumma amin.

    Diambil dari milistsd-islam@yahoogroups.com


    sumber : eramuslim.com

    revoLUTHIon
    Senior Member
    Senior Member

    Jumlah posting : 243
    HP : 101
    Reputation : 3
    Registration date : 06.02.09
    Age : 29
    Lokasibekasi

    Re: Cara Bijak Memarahi Anak

    Post by revoLUTHIon on Fri Feb 13, 2009 8:39 am

    wah belum tentu juga...
    saya anak yg sulit loh Razz


    _________________
    Then which favors of 4WI will you deny As sins are revealed for us to be avoided

    bundaalifah
    Newbie
    Newbie

    Jumlah posting : 34
    HP : 0
    Reputation : 0
    Registration date : 10.02.09
    Age : 35
    Lokasipesanggrahan-selatan jakarta

    Re: Cara Bijak Memarahi Anak

    Post by bundaalifah on Fri Feb 13, 2009 8:55 am

    revoLUTHIon wrote:wah belum tentu juga...
    saya anak yg sulit loh Razz

    duhhh.. belum apa2 sudah men-cap diri sebagai anak yg sulit.. hmmmm No

    lauthfi
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 51
    HP : 4
    Reputation : 0
    Registration date : 09.02.09
    Age : 35
    LokasiJakarta

    Re: Cara Bijak Memarahi Anak

    Post by lauthfi on Sat Feb 14, 2009 9:20 am

    revoLUTHIon wrote:wah belum tentu juga...
    saya anak yg sulit loh Razz

    Sulitnya gmn ya? tp mudah2an sekarang sudah nda sulit lagi khan?
    Rasulullah tidak pernah melarang anak2 kecuali permainan yg berbahaya. Smile

    Abu_Azzam
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 96
    HP : 9
    Reputation : 0
    Registration date : 09.02.09
    Age : 36
    Lokasips.minggu

    Re: Cara Bijak Memarahi Anak

    Post by Abu_Azzam on Sat Feb 14, 2009 11:25 am

    Iya benar seperti akhina lauthfi bilang......asalkan anak kita tdk bermain permainan yg berbahaya.....ndk masalah.

    Tapi akh Lauthfi antum sendiri tdk memberikan contoh yg baik sih....Masak anak antum sudah di ajarin pegang AK 47 sih....bahaya banget tuh....tuh liat deh photo anak antum. Very Happy

    lauthfi
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 51
    HP : 4
    Reputation : 0
    Registration date : 09.02.09
    Age : 35
    LokasiJakarta

    Re: Cara Bijak Memarahi Anak

    Post by lauthfi on Mon Feb 16, 2009 12:49 pm

    Abu_Azzam wrote:
    Tapi akh Lauthfi antum sendiri tdk memberikan contoh yg baik sih....Masak anak antum sudah di ajarin pegang AK 47 sih....bahaya banget tuh....tuh liat deh photo anak antum. Very Happy

    Ibunda dari Hawariyin Rasulullah itu keras sekali dalam mendidik anaknya yg bernama Zubair ibnu awwam sampe tetangganya melihat ibunda zubair seolah2 kasar amat ya ibu terhadap anaknya. Yg diajarkan spt apa yg dicontohkan Rasulullah berkuda dan memanah. Maka tak ayal zubair adalah penunggang kuda yg sangat pintar dan pemain pedang yg luar biasa.

    Very Happy tp realitas ibu2 saat ini sangat memanjak anaknya. Jatuh sedikit kemudian dia mencontohkan memukul aspal ato lantai seolah2 anak selalu benar.

    Wallahu'alam bishowab
    Akh eko kapan nih kewonogiri Very Happy ada salah dari heri wahyono

    Abu_Azzam
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 96
    HP : 9
    Reputation : 0
    Registration date : 09.02.09
    Age : 36
    Lokasips.minggu

    Re: Cara Bijak Memarahi Anak

    Post by Abu_Azzam on Mon Feb 16, 2009 2:01 pm

    Emang betul tuh anak kita dr kecil sdh harus di ajari seperti ummu zubair mendidik anaknya.....dan yg ndk kalah pentingnya kita pun orang tuanya harus bs mencontohkkanya....Anak ana aja udh ana ajarain megang senapan...walupun hanya senapan angin hehehe


    Akh Lutfi Gmn Klo tgl 27 bln ini....cause ana Cuti.... Very Happy

    bundaalifah
    Newbie
    Newbie

    Jumlah posting : 34
    HP : 0
    Reputation : 0
    Registration date : 10.02.09
    Age : 35
    Lokasipesanggrahan-selatan jakarta

    Re: Cara Bijak Memarahi Anak

    Post by bundaalifah on Mon Feb 16, 2009 3:07 pm

    Subhanallah... Bapak2 qt ini memang bijak ya...

    AYO terus belajar menjadi orang tua yang bijak dalam menghadapi anak2 qt !! Smile

    andaleh
    Newbie
    Newbie

    Jumlah posting : 34
    HP : 2
    Reputation : 0
    Registration date : 10.02.09
    Age : 34

    Re: Cara Bijak Memarahi Anak

    Post by andaleh on Tue Feb 17, 2009 3:48 pm

    Suatu ketika, pulang dari play-group anak saya berkata, "Bapak kurang ajar." Setelah saya tanya maksudnya, ternyata dia tidak mengerti makna kurang ajar. Ia mengatakan, "Kurang ajar itu ya main-main, sembunyi-sembunyian."



    Btw, anak ane cewek, gak bisa diajarin megang senapan.. Very Happy

    lauthfi
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 51
    HP : 4
    Reputation : 0
    Registration date : 09.02.09
    Age : 35
    LokasiJakarta

    Re: Cara Bijak Memarahi Anak

    Post by lauthfi on Wed Feb 18, 2009 7:09 am

    Btw, anak ane cewek, gak bisa diajarin megang senapan.. Very Happy

    memang sbab pergaulan anak spt itu. Anak2 perempuan ya jelas punya permainan sendiri, aisyah contohnya senang bermain boneka, Rasulullah nda melarangnya. Dalam hal ibadah juga begitu, puncaknya ibadah adalah jihad sedang jihadnya wanita adalah haji. Smile

    Sponsored content

    Re: Cara Bijak Memarahi Anak

    Post by Sponsored content Today at 7:51 am


      Waktu sekarang Tue Dec 06, 2016 7:51 am