Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    9 Akhlak (Karakter Positif) Pendukung Keberhasilan Akademik

    Share

    bundaalifah
    Newbie
    Newbie

    Jumlah posting : 34
    HP : 0
    Reputation : 0
    Registration date : 10.02.09
    Age : 35
    Lokasipesanggrahan-selatan jakarta

    9 Akhlak (Karakter Positif) Pendukung Keberhasilan Akademik

    Post by bundaalifah on Mon Feb 23, 2009 12:03 pm

    Saya bisa dikatakan fansnya Bu Ery Soekresno seorang psikolog yang bergerak di bidang dunia anak dan pendidikan. Ide-ide yang dipaparkan bu Ery dalam setiap seminar yang saya ikuti membuat saya semakin mendapatkan keyakinan bahwa saya sebagai orangtua bisa memberikan pendidikan yang baik bagi anak melalui homeschooling.

    Awalnya menjalani homeschooling pasti akan ada keraguan dari para orang tua termasuk saya mengenai kemampuan mengajar.
    " Aduh bisa ngga yah saya ngajarin anak?"
    "Sabar nggak yah?"
    "Tahan ngga ya ngajar 6 jam sehari"

    Ini sebagian fikiran yang menggelayuti fikiran saya pada awalnya. Karena definisi mengajar bagi saya awalnya adalah memberikan penjelasan mengenai suatu topik agar anak bisa tahu dan faham mengenai topik tersebut.

    Ternyata bukan itu definisi mengajar menurut bu Ery.

    Definisi mengajar adalah memotivasi anak agar mau memperlajari suatu topik, sedangkan yang akan membuat dia mengerti itu adalah dirinya sendiri bukan orang tua. Agar anak bisa mengerti juga terkadang tidak langsung mungkin saja akan mengalami kebingungan dan berbuat salah sebelumnya. Itu hal yang wajar karena belajar merupakan suatu proses bukan hanya sekedar tahu jawaban yang benar yang mana.

    Oleh karena itu yang paling penting adalah membangun karakter positif anak yang akan mendukung proses belajar anak. Dan ini merupakan tugas utama orang tua.

    Pada dasarnya anak itu fitrahnya sudah memiliki semua potensi kebaikan dalam dirinya. Hanya saja perlu bantuan orang tua agar anak bisa mengeluarkan kebaikan-kebaikan yang terpendam dalam dirinya tersebut. Kalau anak terlihat 'nakal' bagi kita sebenarnya bukan karena anak memiliki jiwa kriminal melainkan hanya karena mereka masih lugu, belum tahu ataupun karena anak memang senangnya yang enak-enak saja.

    9 Akhlak (Karakter Positif) yang akan mendukung keberhasilan anak melalui proses akademik menurut bu Ery adalah sebagai berikut :

    1. Rasa Percaya Diri
    Rasa PD bisa dilatih dengan cara memberikan pilihan bagi anak terutama ketika kita ingin anak melakukan sesuatu dan kesempatan melakukan pekerjaan sederhana sendiri.
    Ketika kita ingin menyuruh anak mandi misalnya ketika anak menolak kita bisa memberikan pilihan " Dek, mau mandi air dingin atau air hangat?". Dan ketika dia sudha memilih hargai apapun pilihannya jangan mengkritik dengan berkata misalnya " yah kok air hangat kan umi repot masaknya!". Ini akan kembali menjatuhkan mental anak.

    2. Rasa Ingin Tahu
    Ketika anak tidak lagi punya rasa ingin tahu maka proses belajarnya terhenti karena dia merasa sudah cukup dan tidak ingin tahu apa-apa lagi. Oleh karenanya kita harus selalu memumpuk rasa ingin tahu yang sebenarnya sudah Allah berikan kepada semua anak.
    Caranya berusaha menjawab semua pertanyaan anak, kalau tidak bisa ajak dia ikut mencari jawaban tersebut. Kita juga bisa mengajarkan anak mengajukan berbagai pertanyaan terhadap satu topik dengan pertanyaan yang diawali Apa, Mengapa, Bagaimana, Kapan, Siapa, Berapa lama dan Berapa Biaya membuatnya.

    3. Motivasi
    Motivasi sebaiknya berasal dari dalam diri sendiri bukan karena dia ingin menyenangkan orang tua ataupun karena hadiah. Oleh karena itu ketika kita ingin anak melakukan sesuatu jangan diimingi-imingi hadiah sebelumnya atau dengan amarah sehingga anak melakukannya hanya karena ingin menghindari amarah kita.
    Selain itu kita juga bisa meminimalkan memberi perintah kepada anak, biarkan anak yang mengambil keputusan mengenai apa yang seharusnya dia lakukan berdasarkan fakta yang ada. Misalkan alih-laih berkata " dek, beresin dulu mainannya sekarang!" Kita bisa ganti dengan " dek, rumah kita berantakan yah, mainanmu berserakan. Gimana caranya supaya rumah kita ngga berantakan lagi"?. Jadi ide membereskan mainan itu akan datang dari dia sendiri.

    4. Kemampuan Kontrol diri
    Kemamapuan kontrol diri akan didapatkan anak jika dia diberikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya. Jadi ketika anak marah biarkan anak marah selama dia tidak merusak barang ataupun memukul. Anak boleh mengungkapkan semua perasaannya orang tua lah yang akan membantu anak mengekspresikan dengan cara yang benar.

    5. Kemampuan Kerja Sama
    Kerjasama bisa dilatih dengan banyak hal misalkan saja dengan membuat kue bersama-sama ibu dan adik ataupun membangun menara yang tinggi dengan teman. Tunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan bersama akan lebih cepat selesai.

    6. Mudah Bergaul
    Anak kuper sering menajdi masalah bagi orang tua. Orang tua seringkali khawatir kalau anak tidak mudah bergaul walaupun pada kenyataannya anak usia 2 tahun belum bisa bermain bersama. agar anak mudah bergaul anak diberikan kesempatan bertemu dengan prang lain tidak hanya teman sebaya tetapi juga teman berbagai usia dan orang dewasa.
    Bu ery mengingatkan anak berumur dibawah 4 tahun harus ditemani oleh orang dewasa ketika ingin bermain dirumah temannya karena anak usia dini masih mau enaknya sendiri tanpa memperdulikan aturan-aturan yang berlaku.

    7. Mampu Berkonsentrasi
    Tips sederhana yang diberikan bu Ery agar anak bisa berkonsentrasi adalah dengan memegang anak serta meminta anak menatap mata kita ketika kita berbicara padanya.

    8. Empati
    Ketika kita ingin anak berempati kita harus mengenalkan berbagai jenis perasaan kepada anak. Sedih, marah, takut, kecewa, cemas, bahagia dan sebagainya. Sehingga anak bisa membaca perasaan orang lain dan kemudian mencoba berempati.
    Untuk kegiatan kongkrit setiap malam takbiran anak-anak Bu Ery akan berkeliling Jakarta untuk memberikan hadiah bagi para pemulung.

    9. Kemampuan Berkomunikasi
    Ketika berkomunikasi dengan anak hindari bahasa bayi misalkan " Adek mau maem, ya?". Ketika anak salah mengucapkan sesuatu kita tidak perlu mengkritiknya tapi langsung mencontohkan yang benar. "ooo, adek mau makan, ya?"
    Tips lain dari bu Ery adalah kita sebaiknya tidak memberikan apa yang diperlukan anak sebelum dia memintanya sendiri.



    Semua karakter postif tersebut tidak bisa dibangun dengan cara hanya menonton VCD, membaca buku ataupun hanya berupa nasehat dari orang tua. Anak perlu diberikan kegiatan kongkrit untuk setiap Karakter. Dan yang paling penting contoh utama kita adalah Rasulullah SAW.

    Sumber
    Tamasya Belajar

      Waktu sekarang Thu Dec 08, 2016 6:51 pm