Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    Sebuah Renungan "Maaf"

    Share

    koernia
    Newbie
    Newbie

    Jumlah posting : 14
    HP : 9
    Reputation : 0
    Registration date : 06.02.09
    Age : 30
    LokasiDepok

    Sebuah Renungan "Maaf"

    Post by koernia on Fri Apr 24, 2009 5:44 pm

    MAAF

    Jam sudah menunjukkan angka sebelas ketika aku duduk
    merebahkan diri di ruang tengah. Tentu saja istri dan anakku
    Aisyah sudah tertidur lelap.Tapi kenapa pintu kamar Aisyah
    masih terbuka?
    Aku tertegun saat berdiri di depan pintu kamar Aisyah.
    Aisyah tertidur di meja belajarnya, ditangan kanannya masih
    memegang pinsil dan sepertinya dia menulis sesuatu di buku
    tulisnya dan ada segelas kopi.
    "Tumben anak ini minum kopi,"pikirku.

    Kuangkat dia ketempat tidur. Kubereskan meja belajarnya yang
    berantakan, namun sebelum aku menutup buku tulisnya aku
    ingin melihat apa yang ditulis Aisyah. Aku tertegun sejenak
    saat membaca tulisan2nya, ternyata semuanya cerita tentang
    diriku. Sampai akhirnya aku membaca 3 lembaran terakhir yang
    sangat menyentuh hatiku.

    Di lembaran pertama dia menulis :
    "Hari ini ayah tidak jadi menemaniku ke toko buku, mungkin
    ayah tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Aku mengerti
    dengan kesibukanmu ayah."
    Aku jadi ingat beberapa minggu yang lalu Aisyah mengajakku
    ke toko buku, aku ingat sekali gaya bicaranya yang polos.
    "Ayah nanti sore ada kegiatan nggak sih,"sapa Aisyah saat
    aku akan pergi kerja.
    "Ada apa sayang," jawabku.
    "Ayah mau nggak menemani Aisyah ke toko buku?"
    "Kalau ayah nggak sibuk nanti sore akan ayah usahakan
    menemani kamu yach".
    "Terima kasih, ayah," ucap Aisyah dengan wajah yang sangat
    gembira sambil mencium pipiku. Aku tersenyum melihat
    tingkahnya yang lucu dan menggemaskan.

    Di lembaran kedua dia menulis : "Hari ini ayah tidak jadi
    lagi menemaniku ke toko kaset, padahal aku ingin sekali
    mendengar lagunya Sulis dan memutarnya di kamarku saat aku
    sedang sendiri agar aku tidak merasa sunyi. Sebenarnya aku
    mau ngajak ibu tapi aku ingin sekali ditemani ayah. Tapi
    lagi2 ayah sibuk".
    Dan aku ingat lagi kalau Aisyah memang pernah mengajakku
    menemaninya membeli kaset. Kalau dia ingin mengajakku dia
    selalu bicara sepertiini,"Ayah nanti sore sibuk nggak atau
    Ayah nanti
    sore ada kegiatan?" Bahasa yang sopan sekali menurutku
    sehingga aku tidak bisa untuk mengatakan tidak walaupun
    terkadang aku tidak bisa memenuhi keinginannya.

    Di lembaran terakhir dia menulis : "Hari ini dan untuk
    kesekian kalinya ayah tidak bisa menemaniku. Tadi aku
    mengajak ayah ke pasar malam padahal ini kan hari terakhir
    ada pasar malam di komplekku dan aku udah janji sama pak
    Mamat kalau aku akan membeli boneka yang ditawarkan tadi
    sore saat pak Mamat lewat depan rumahku, aku katakan pada
    pak Mamat kalau aku akan pergi bersama ayah ke pasar malam
    dan aku akan membeli boneka pak Mamat. Karena ayah masih
    belum pulang pasti pak Mamat sudah menjualnya. Pak Mamat
    maafkan Aisyah yah. Besok pagi akan Aisyah tunggu di depan
    rumah dan minta maaf pada pak Mamat kalau Aisyah tidak bisa
    pergi ke pasar malam. Kali ini Aisyah yang akan duluan
    meminta maaf, biasanya kan pak Mamat selalu minta maaf kalau
    sudah melihatku di depan rumah menanti majalah yang kupesan.
    Dia selalu bilang,"maaf yah neng pak Mamat terlambat".
    Padahal menurutku pak Mamat nggak terlambat hanya aku yang
    terlalu cepat menunggunya. Begitu melihatku sudah menunggu
    dia mengayuh sepedanya lebih cepat lagi. Saat kutanya kenapa
    sih pak Mamat selalu minta maaf padahal pak Mamat kan nggak
    punya salah pada Aisyah. "Iya neng pak Mamat tidak ingin
    mengecewakan neng Aisyah kemaren kan sudah bilang kalau pak
    Mamat nganterin pesanan neng Aisyah pagi2 sebelum neng
    pergi kesekolah. Coba kalau pak Mamat datangnya kesiangan
    pasti neng kecewa, pak Mamat nggak ingin neng, ngecewakan
    orang karena kekecewaan itu akan menimbulkan luka di hati.
    Dan susah neng untuk menyembuhkannya kecuali kita minta maaf
    dengan tulus pada orang yang telah kita kecewakan".

    Aku jadi ingat sama ayah, ayah tidak pernah mengucapkan maaf
    padaku, atau mungkin karena ayah menganggapku masih kecil
    atau ah, aku tidak mau berprasangka buruk terhadap ayah.
    Walaupun sebenarnya aku sangat kecewa dengan ayah tapi aku
    tidak ingin menyimpan kekecewaan itu didalam hati. Bahkan
    hatiku selalu terbuka untuk kata maaf ayah.

    Aku menangis membaca tulisan Aisyah, kudekati Aisyah di
    pembaringan sambil kupandangi wajahnya yang polos. Aisyah
    anakku sayang maafkan ayah, ternyata kau punya hati emas.
    Aku memang tidak
    pernah minta maaf pada Aisyah atas janji2 yang tidak pernah
    kupenuhi padanya. Dan aku selalu
    menganggapnya dia sudah melupakannya begitu melihatnya
    dipagi hari wajahnya begitu cerah dan selalu tersenyum. Dan
    ternyata dia masih mengingatnya dalam tulisan2nya. Ah, entah
    sudah berapa banyak goresan rasa kecewa yang ada dihatimu
    andai kau tidak memaafkan ayah. Aisyah, ayah akan
    menunggumu sampai terbangun untuk meminta maafmu.

    ---Untuk anakku tersayang Aisyah---

    Renungan: Terkadang kita malu atau enggan hanya untuk
    sekedar mengatakan kata "maaf" dan membiarkannya menjadi
    goresan2 luka yang membekas di hati. Atau mungkin kita
    sering beranggapan bahwa mereka akan melupakannya setelah
    beberapa hari. Kalau seandainya anda juga pernah melakukan
    hal yang sama seperti saya, tidak ada kata terlambat untuk
    meminta maaf pada orang yang pernah anda kecewakan. Jangan
    malu untuk melakukan hal yang benar sekalipun itu anda
    lakukan untuk seorang bocah atau teman, karena mereka juga
    punya hati nurani. Dan seandainya mereka masih tersenyum
    padamu walaupun anda telah mengecewakan mereka anda harus
    bersyukur atas karunia itu.

    Diambil dari yahoogroups alumni sma 31 jakarta.

      Waktu sekarang Tue Dec 06, 2016 7:52 am