Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    perbedaan itu kekayaan

    Share
    avatar
    santii
    Senior Member
    Senior Member

    Jumlah posting : 221
    HP : 356
    Reputation : 7
    Registration date : 04.05.09
    Age : 26
    Lokasijalan bango 3 pondok labu, cilandak, jakarta selatan

    perbedaan itu kekayaan

    Post by santii on Mon Jun 22, 2009 4:17 pm

    Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro

    (M. Anis Matta, Dalam "Menikmati Demokrasi")

    "Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka
    yang tidakbisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan
    kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah
    rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang
    secara tarbawi atau tidak?"
    ------------ --

    RASANYA PERBINCANGAN kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa
    membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya
    tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana "mengelola" ketidaksetujuan
    itu?

    Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan
    pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari
    fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi
    ciri kehidupan majemuk.

    Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar
    belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang
    berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses
    tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan
    meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal,
    organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan
    celah bagi semua kemungkinan perbedaan.

    Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk
    dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam
    keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan
    yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan
    pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari
    jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola
    ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.

    Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani
    "pengalaman keikhlasan" seperti itu? Pertama, marilah kita bertanya
    kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui
    suatu "upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan
    yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk
    mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat
    yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang
    sebenarnya merupakan sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam
    benak kita selama rapat berlangsung.

    Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya
    hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam
    syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar
    lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah
    menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan
    pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.

    Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang
    intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang
    diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, "Pendapat kita memang
    benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi
    mungkin benar."

    Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri,
    apakah pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau
    sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita
    sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"?
    Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu
    persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya
    sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita.
    Bukan kebenaran objektif, walaupun â€"karena faktor setanâ€" kita
    mengatakannya demikian.

    Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti
    memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt.
    Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita
    kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela
    adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala
    bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela
    hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., "Umatku tidak
    akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan begitu kita
    menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi
    kita.

    Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar
    dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah
    atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan
    kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih
    penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi
    memang lebih benar.

    Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu
    padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih
    penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi,
    seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik
    daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah
    karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.

    Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan
    kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan
    mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi
    tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang
    mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu.
    Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul
    situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan
    cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah
    swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.

    Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena
    hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya
    waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama
    hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita..

    Keempat, sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang
    begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak
    terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna
    ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati,
    tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah,
    tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat,
    tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak
    terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah
    swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada
    jamaah.

    Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas
    dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah
    kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan
    pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban
    perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati
    terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang
    mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang
    akan datang.

    Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka
    yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan
    kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah
    rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang
    secara tarbawi atau tidak ?

      Waktu sekarang Sat Apr 29, 2017 10:37 am