Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    surat dari ayah

    Share

    santii
    Senior Member
    Senior Member

    Jumlah posting : 221
    HP : 356
    Reputation : 7
    Registration date : 04.05.09
    Age : 26
    Lokasijalan bango 3 pondok labu, cilandak, jakarta selatan

    surat dari ayah

    Post by santii on Tue Jun 30, 2009 1:05 pm

    Assalamualaikum wr wb

    Sepucuk surat dari seorang ayah

    Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang
    tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang
    ayah kepada anaknya yang sesungguhnya bukan miliknya, melainkan milik
    Tuhannya.

    Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti
    kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah
    karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan
    bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.

    Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan
    temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog
    seorang ayah dengan anak-anaknya.

    Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit.
    Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti
    menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku
    terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa
    terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan
    Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat
    usia senja ini.

    Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai
    buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi
    terpisahkan oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu
    kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau
    sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau
    lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik
    Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu
    semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.

    Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya
    aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam
    sepi,kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata dihadapan
    Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.

    Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada
    pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa erusaha memenuhi
    keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan
    karena kau dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain,
    tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.

    Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu
    memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih
    dulu sesuai dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya
    tak lagi terlalu sulit. Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu
    berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur
    hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu
    sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan rohaniah yang
    sebenarnya. Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau
    karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak
    kenal letih dan berhenti.

    Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan
    menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.

    Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di
    hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan
    ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku
    berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan. Aku
    akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita
    kembalikan kepada pemiliknya. Dari ayah yang senantiasa merindukanmu.

    Sebuah tulisan yang saya sendiri pun tak tahu siapa penulisnya, tapi
    yang saya tahu
    Ia menyadarkan saya akan betapa besar kecintaan orangtua…

    Entah mengapa air mata menetes ketika tulisan itu ku baca dan ku mau
    kau pun merasakan apa yang aku rasakan. Sahabat, cintailah ayahmu
    selagi ia disampingmu…

      Waktu sekarang Wed Dec 07, 2016 9:27 pm