Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    jika kau lelah...

    Share

    santii
    Senior Member
    Senior Member

    Jumlah posting : 221
    HP : 356
    Reputation : 7
    Registration date : 04.05.09
    Age : 26
    Lokasijalan bango 3 pondok labu, cilandak, jakarta selatan

    jika kau lelah...

    Post by santii on Wed Jul 15, 2009 8:27 am

    Ada kalanya kejenuhan memenuhi hati,
    Hingga sulit sekali untuk mensyukuri Nikmat yang sebenarnya sangat berarti.
    Atau ada kalanya juga ingin sekali berhenti,
    sekedar menepi dari amal diri untuk waktu yang kita mungkin juga tak tahu lamanya sendiri..

    lantas, bagaimanakah seharusnya menyikapi permintaan sang hati?
    coba selami yang satu ini..


    Sulit, Mudah, RidhaNya
    oleh Salim A. Fillah

    satu waktu, sudah lama sekali

    seseorang berkata dengan wajah sendu

    “alangkah beratnya.. alangkah banyak rintangan..

    alangkah berbilang sandungan.. alangkah rumitnya.”

    ***

    aku bertanya, “lalu?”

    dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk

    “apakah sebaiknya kuhentikan saja ikhtiar ini?”

    “hanya karena itu kau menyerah kawan?”

    aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup

    menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti dialaminya

    “yah.. bagaimana lagi? tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa

    Allah tak meridhainya?”

    ***

    aku membersamainya menghela nafas panjang

    lalu bertanya, “andai Muhammad, shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berfikir

    sebagaimana engkau menalar, akan adakah islam di muka bumi?”

    “maksudmu akhi?”, ia terbelalak

    ***

    “ya. andai muhammad berfikir bahwa banyak kesulitan

    berarti tak diridhai Allah, bukankah ia akan berhenti di awal-awal risalah?”

    ***

    ada banyak titik sepertimu saat ini, saat muhammad

    bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar

    mungkin saat dalam ruku’nya ia dijerat di bagian leher

    mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta

    mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu

    mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir

    mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi’b Abi Thalib

    mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata

    atau saat paman terkasih dan isteri tersayang berpulang

    atau justru saat dunia ditawarkan padanya; tahta, harta, wanita..”

    ***

    “jika muhammad berfikir sebagaimana engkau menalar

    tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?

    tapi muhammad tahu kawan

    ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya

    berat atau ringannya, bahagia atau deritanya

    senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya”

    ***

    “ridha Allah terletak pada

    apakah kita mentaatiNya

    dalam menghadapi semua itu

    apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larangNya

    dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan..”

    ***

    sumber: http://www.fillah. co.cc/
    dikutip dengan beberapa perubahan.

      Waktu sekarang Tue Dec 06, 2016 7:52 am