Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    Mengapa Ahmadinejad Menang ?

    Share

    TauffaN
    Senior Member
    Senior Member

    Jumlah posting : 254
    HP : 264
    Reputation : 12
    Registration date : 05.02.09
    Age : 29
    LokasiKapuk Valley, margonda depok

    Mengapa Ahmadinejad Menang ?

    Post by TauffaN on Thu Aug 06, 2009 3:58 pm

    pemilu di iran dan beberapa pemberitaan yang ana dengar tentangnya, dari beberapa media aneh yang membuat terus berpikir...... membuat ana mencari-cari fakta di balik layar.. sebenernya ada apa dengan IRan akhrinya ana dapat sedikit pencerahana akan hal ini,

    Mengapa Ahmadinejad Menang ?


    Jakarta
    (ANTARA News) - Elite demokrasi maju dan terutama pakar serta media
    Barat, acap mengesampingkan nilai-nilai lokal demi kelompok yang
    diidentifikasi tengah membawa nilai-nilai yang diyakininya sebagai
    resultante dari prinsip yang berlaku global.


    Taruhlah resultante itu pandangan liberal atau imitasi gaya hidup global yang mendahului keperluan memperkuat fondasi lokal.

    Pemilu
    Iran yang dimenangkan pemimpin garis keras Mahmoud Ahmadinejad
    mengajarkan hal itu, disamping menjadi satu materi kuliah penting bagi
    demokrasi berkembang manapun di dunia, termasuk Indonesia.

    Pemilu
    Iran mengajarkan, jangan pernah mengabaikan realitas lokal hanya karena
    menganggap nilai lokal telah tersisih oleh modernitas. Penyangkalan
    lokal itu misalnya tercermin dari prilaku liberal kaum perkotaan dan
    penepisan simbol atau atribut sosial yang melekat lama dalam masyarakat
    karena dianggap kuno atau puritan.

    Tulisan Abbas Barzegar
    --seorang akademisi AS keturunan Iran dalam Guardian (13/6)-- ini
    diantaranya mengungkapkan penyangkalan lokal itu yang berujung pada
    kekalahan kubu yang acap diatributi pers Barat sebagai kaum reformis.

    Berikut sadurannya ;

    Saya
    berada di Iran, tepatnya seminggu, guna mengikuti pesta demokrasi pada
    Pemilu Iran 2009. Semenjak saya tiba di sana, sedikit orang di negeri
    ini yang ragu bahwa calon incumbent Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang
    provokatif ini bakal memenangkan Pemilu.

    Sopir taksi yang
    menyertai saya mengingatkan bahwa Si Presiden telah mengunjungi semua
    provinsi di Irak dua kali dalam empat tahun terakhir ini. "Iran itu
    bukan (hanya) Teheran," katanya.

    Ketika saya menanyai para
    pendukung (Mir Hossein) Mousavi, apakah tokoh usungan mereka itu
    benar-benar akan meraih dukungan tidak hanya di ibukota (Teheran),
    mereka mengutarakan jawaban-jawaban optimistis gaya Obama seperti, "Ya,
    kita bisa," "Saya kira begitu," "Jika anda memilih."

    Pertanyaan
    yang menghantui media internasional bahwa "Bagaimana bisa seorang
    Mousavi kalah?" tampak tak begitu menjadi urusan Komisi Pemilihan Umum
    Iran dan itu tidak lebih dari persepsi keliru selama ini yang menolak
    memahami peran agama di Iran.

    Tentu saja, kemungkinan pemilu
    curang tetap ada dan orang mesti menunggu sampai pekan-pekan mendatang
    untuk melihat bagaimana tuduhan itu dapat dibuktikan.

    Tetapi
    orang semestinya ingat bahwa dalam tiga dekade Pemilu Presiden, tuduhan
    kecurangan jarang sekali dialamatkan ke penghitungan suara. Pemilu di
    sini secara khusus dikendalikan dengan cara membatasi gerak-gerik
    kandidat atau menutup media massa kelompok oposisi.

    Tambahan
    lagi, dalam pemilu kali ini, ada dua badan pengawas pemilu bentukkan
    pemerintah yang terpisah yang memungkinkan saksi semua kubu bisa
    mencegah terjadinya kecurangan massal dalam pemilu.

    Kesangsian
    atas kemenangan Ahmadinejad yang dituduh pendukung Mousavi sebagai
    bukti adanya kecurangan oleh negara, seyogyanya selaras dengan
    ketidakpercayaan sama terhadap merajalelanya korupsi yang berlangsung
    terang-terangan.

    Jadi, sampai ada bukti meyakinkan yang bisa
    membenarkan tuduhan-tuduhan oposisi, maka kita perlu melihat alasan
    lain yang menjelaskan bagaimana begitu banyak orang tersihir oleh
    peristiwa-peristiwa yang terjadi seharian itu.

    Sejauh yang diperhatikan media internasional, tampaknya hanya wangsit yang layak diberitakan dibalik kemenangan itu.

    Memang
    benar bahwa para pendukung Mousavi telah membuat jalanan kota Teheran
    macet selama berjam-jam setiap malam sepanjang pekan lalu, padahal itu
    hanya terjadi di bagian utara ibukota yang terkenal lebih makmur. Para
    wanita menanggalkan hijabnya dan anak-anak muda berjingkrak di jalanan.

    Senin
    malam lalu setidaknya 100.000 pendukung sang mantan perdana menteri
    (Mousavi) membuat rantai manusia di sepanjang kota Teheran.

    Namun
    beberapa jam sebelumnya, saya juga menghadiri parade massal pendukung
    sang incumbent yang kurang diperhatikan pers Barat. Jumlah mereka luar
    biasa banyak, bahkan tidak pernah terjadi sebelum ini.

    Perkiraan
    minimal jumlah massa yang mengikuti pidato kampanye Ahmadinejad saat
    itu adalah 600.000 orang (bahkan banyak yang yakin mencapai satu juta
    orang).

    Dari loteng gedung, saya menyaksikan para wanita
    berjilbab dan pria-pria berjanggut, dari segala umur, berduyun-duyun
    berkerumun bagai aliran lava gunung berapi.

    Keliru

    Kekeliruan
    dalam menaksir secara tepat hal-hal yang berkaitan dengan Iran, bukan
    sekali ini terjadi. Ketika revolusi Islam 1979 berhasil menghancurkan
    kediktaturan militer negeri itu yang merupakan sekutu terkuat Amerika
    di Timur Tengah, hanya sedikit pakar di luar Iran yang memperkirakan
    bahwa kaum revolusioner Islam akan tumbuh menjadi satu kekuatan utama
    di Iran.

    Tapi di Iran sendiri, cendekiawan sekuler seperti
    Jalal-e-Ahmad, pengarang buku "Occidentosis" yang terkenal itu pun
    telah memperkirakan rejim (Shah Iran) bakal tumbang di tangan gerakan
    revolusi Islam, satu dekade sebelum takdir tahun 1979 itu terjadi.

    Filsuf
    Prancis pemberontak, Michel Foucault, juga secara meyakinkan telah
    meramalkan peristiwa itu, karena dia merekamnya dari dekat, dalam jarak
    yang para pengagumnya pun enggan melakukannya.

    Sejak revolusi
    Islam Iran, para akademisi, intelektual dan para ahli telah meramalkan
    bakal runtuh cepatnya rejim (Islam Iran). Sampai sekarang ramalan
    mereka itu tak berbukti.

    Anomali-anomali seperti itu hanya bisa dijelaskan oleh sejarah. Iran adalah masyarakat yang sangat relijius.

    Nepotisme,
    otokrasi dan penindasan Shah Iran yang berdekade-dekade diperangi kaum
    komunis dan liberal gagal diakhiri, tetapi adalah serangan Shah
    terhadap kemapanan kalangan relijiuslah yang mengantarkan kejatuhan
    Shah yang terjadi nyaris hanya dalam semalam.

    Sejak itu rakyat Iran menyalurkan impian-impiannya melalui kotak suara.

    Pada
    1997 setelah asap perang Iran-Irak berhenti dan negara itu melewati
    satu dekade masa stabil, para pemilih berbondong-bondong memberi
    dukungan pada ulama yang mantan presiden --Mohammad Khatami-- dalam
    menghadapi lawannya Natiq Nouri, anggota senior parlemen Iran.

    Para
    wartawan Barat menyebut momen itu sebagai satu generasi yang terbelah;
    yaitu kaum muda liberal pecinta kebebasan melawan ulama-ulama tua
    konservatif.

    Tetapi pemilu saat itu sesungguhnya adalah pemilu
    untuk memilih kejujuran dan kesalehan (Khatami), melawan kekuatan yang
    dituduh korup.

    Dan kini orang-orang sama yang dulu mendukung
    Khatami, menyalurkan suaranya untuk Ahmadinejad kemarin, padahal wajah
    Khatami menghiasai poster-poster kampanye kubu Mousavi.

    Selama
    hampir seminggu dorongan sosial anti korupsi, kerakyatan dan kesalehan
    relijius yang dulu melahirkan revolusi Islam tampak kembali di jalanan
    untuk dipungut lagi oleh rakyat Iran. Untuk sebagian besar rakyat
    negeri itu, Ahmadinejad adalah perwujudan dorongan-dorongan impian
    (tentang pemimpin anti korupsi, merakyat dan saleh) ini.

    Sejak
    pertamakali masuk ke kantornya, Ahmadinejad menolak mengenakan jas
    mahal, menolak meninggalkan rumah yang diwarisinya dari sang ayah, dan
    menolak mengendurkan retorika yang digunakannya untuk melawan mereka
    yang dituduhnya pengkhianat bangsa.

    Manakala secara terbuka dia
    menuduh mantan pesaingnya yang tanggal dari kekuasaanya, Ayatullah Ali
    Akbar Hashemi Rafsanji, sebagai singa terhadap revolusi, koruptur
    parasit dan membandingkan pengkhianatan Rafsanjani dengan pengkhianatan
    terhadap Nabi Muhammad SAW yang menyebabkan syiah dan suni bermusuhan
    selama 1.400 tahun, dia menawarkan rakyat satu tarikan (moral) yang
    beberapa generasi lamanya dimimpikan rakyat.

    Ketika Rafsanjani membela diri melalui suratkabar pro-Mousavi, maka tamatlah riwayat kaum reformis.

    Jujur

    Minggu
    lalu Ahmadinejad bagai mengubah pemilu menjadi referendum untuk
    menentukan bagaimana sikap bangsa Iran terhadap prinsip asasi revolusi
    Islam.

    Slogan jalanan mereka berbunyi, "Matilah semua orang yang
    melawan Imam Tertinggi" yang kemudian diikuti ritual dan pepujian
    relijius khas syiah.

    Slogan itu bukan tandingan semboyan ceria
    penuh semangat dari kaum muda Teheran utara, yang menyanyikan
    "Ahmedi-bye-bye, Ahmedi-bye-bye" atau "ye hafte-do hafte, Mahmud hamum
    na-rafte" (Seminggu, dua minggu, Mahmoud tidak mandi).

    Mungkin
    sejak awal Mousavi memang ditakdirkan akan gagal, begitu dia berharap
    bisa menggabungkan energi terang antara kelas sosial atas yang liberal
    dengan kepentingan bisnis pedagang pasar.

    Kampanye lewat
    Facebook dan via sms pun tidak relevan dengan kaum pedesaan dan
    kelompok pekerja yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup
    sehari-hari mereka, banyak sekali yang tidak mempunyai waktu untuk
    sekedar pergi ke cafe internet guna mengecek blog mereka.

    Kendati
    Mousavi berupaya menarik kelas pemilih seperti ini, dengan cara
    mengupas masalah seputar inflasi dan kemiskinan, mereka malah memilih
    lawan Mousavi.

    Oleh karena itu, di masa mendatang, para pengamat
    (Barat) mesti mempelajari lebih dalam lagi masyarakat Iran sehingga
    diperoleh gambaran lebih dalam mengenai struktur negara ini yang sangat
    relijius organik, untuk kemudian disampaikan dalam narasi keniscayaan
    liberal.

    Adalah aspek-aspek relijius unik Persia yang
    mengantarkan seorang sufi terusir berusia 80 tahun menjadi kepala
    negara 30 tahun lalu (Ayatullah Ruhallah Khomeini), kemudian ulama
    kharismatis Khatami 12 tahun silam, seorang putra pandai besi yang
    jujur --Ahmadinejad-- empat tahun lalu, dan hal sama terjadi kemarin
    (Jumat 12/6). (*)

    - Abbas Barzegar adalah kandidat PhD untuk studi keagamaan pada Universitas Emory, Atlanta, Georgia
    - Disadur ke dalam Bahasa Indonesia oleh Jafar M. Sidik

    ada 3 halaman dengan sudut pandang yg berbeda-beda (ini msh sebag.)
    Lebih Lengkapnya.. ini Linknya PEMILU IRAN


    _________________
    "Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain." Pliss Klik Saya

    revoLUTHIon
    Senior Member
    Senior Member

    Jumlah posting : 243
    HP : 101
    Reputation : 3
    Registration date : 06.02.09
    Age : 29
    Lokasibekasi

    Re: Mengapa Ahmadinejad Menang ?

    Post by revoLUTHIon on Fri Aug 07, 2009 8:02 am

    masyarakat Iran yg sudah lebih Madani mudah menhasilkan Dinejad2 yg lain kapan yah Indonesia


    _________________
    Then which favors of 4WI will you deny As sins are revealed for us to be avoided

    Oki Kuswanda
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 129
    HP : 76
    Reputation : 1
    Registration date : 08.02.09
    Age : 30
    LokasiBogor

    Re: Mengapa Ahmadinejad Menang ?

    Post by Oki Kuswanda on Mon Aug 10, 2009 1:36 pm

    OOT

    waktu itu walikota bogor dikunjungi oleh ulama iran..
    mereka bilang kalau di iran itu..

    yg namanya pengurus "DKM Masjid" menjadi pemimpin warga (RT/RW)
    istilahnya kepemimpinan masyarakat itu di pimpin oleh pemuka agama..

    wallahualam

    Sponsored content

    Re: Mengapa Ahmadinejad Menang ?

    Post by Sponsored content Today at 6:52 pm


      Waktu sekarang Thu Dec 08, 2016 6:52 pm