Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    abdurrahman bin auf

    Share
    avatar
    santii
    Senior Member
    Senior Member

    Jumlah posting : 221
    HP : 356
    Reputation : 7
    Registration date : 04.05.09
    Age : 26
    Lokasijalan bango 3 pondok labu, cilandak, jakarta selatan

    abdurrahman bin auf

    Post by santii on Wed Sep 02, 2009 12:01 pm

    Cukup menarik menyaksikan Sahabat ini menangis di
    depan hidangan berbukanya. Seorang manusia yang telah dijamin masuk
    surga, namun masih saja merasa lebih hina dari orang lain yang tidak
    mendapatkan jaminan itu. Seorang yang terbiasa dengan limpahan harta,
    namun masih saja terisak menyaksikan semangkok hidangan berbuka puasa.
    Ia merasa khawatir jika makanan di depannya akan membuat jatah
    kebahagiaan di akhirat akan berkurang.
    Oleh: Irsyad Azizi, Lc. Dpl.
    Lelaki itu tertegun syahdu. Bulir-bulir kristal bening perlahan
    membasahi pipinya. Mata yang basah itu menatap kosong ke arah meja
    hidangan di depannya. Baru saja semangkuk makanan diantarkan untuknya
    berbuka puasa. Perlahan, terdengar gumaman parau dari mulutnya, "Aku
    ingat Mush`ab bin Umair yang syahid di Uhud. Ia jauh lebih baik dariku.
    Ketika ia syahid, tidak ada kain yang cukup untuk menutupi sekujur
    jenazahnya. Sekarang, kesenangan dunia sedang dibentangkan untuk kita.
    Aku khawatir, balasan amal kita dipercepat Allah di dunia, hingga tidak
    ada lagi bagian kita di akhirat kelak."
    Abdurrahman bin Auf nama lelaki itu. Satu dari sepuluh manusia yang
    beruntung mendapat jaminan surga. Seorang Sahabat Rasulullah yang
    dikenal dalam sejarah Islam sebagai konglomerat yang dermawan. Kisah di
    atas terjadi cukup jauh setelah Rasulullah mangkat. Saat di mana daerah
    Islam semakin meluas, dan kesenangan duniawi mulai membelai lembut
    wajah kaum muslimin.
    Cukup menarik menyaksikan Sahabat ini menangis di depan hidangan
    berbukanya. Seorang manusia yang telah dijamin masuk surga, namun masih
    saja merasa lebih hina dari orang lain yang tidak mendapatkan jaminan
    itu. Seorang yang terbiasa dengan limpahan harta, namun masih saja
    terisak menyaksikan semangkok hidangan berbuka puasa. Ia merasa
    khawatir jika makanan di depannya akan membuat jatah kebahagiaan di
    akhirat akan berkurang.
    Telah separoh Ramadhan terlewati, sederhana saja, pernahkan perasaan
    yang sama kita rasakan di depan hidangan ifthar kita? Pernahkah ada
    bayangan orang-orang tak beruntung di benak kita ketika regukan air
    pertama membasahi tenggorokan? Tidak usah jauh-jauh berpikir seperti
    Abdurrahman yang khawatir kalau nikmat ini akan mengurangi balasan di
    akhirat, paling tidak, pernahkah rasa syukur tulus membuncah ketika
    suap demi suap memenuhi perut?
    Puasa demikian indah mengajarkan banyak hal. Mulai dari perihnya
    rasa lapar yang dirasakan kaum papa, hingga perasaan selalu dilihat
    oleh Sang Pencipta. Sayangnya, semua itu acapkali alpa dihayati ketika
    makanan telah terhidang di depan kita. Lupa bahwa banyak saudara seiman
    yang kurang beruntung di tempat lain. Lupa bahwa di kolong-kolong
    jembatan sana , banyak umat Islam yang hanya berbuka dengan sereguk air
    sungai, mengais-ngais bekas makanan orang lain untuk melepas lapar
    seharian. Lupa bahwa di negeri-negeri yang tidak sedamai kita banyak
    saudara seakidah yang berbuka puasa di bawah desingan peluru, melepas
    lapar di bawah bayang-bayang kematian.
    Jangankan untuk peduli dengan nasib orang lain, hidangan yang
    menggiurkan kadang malah membuat doa makan terlewatkan. Terkadang yang
    ada hanya obsesi untuk membalas rasa lapar seharian dengan melahap
    segala yang ada, naudzubillah. Bila ini yang terjadi, ironis, kita baru
    mencatat prestasi mampu bertahan lapar dan haus saja. "Betapa banyak manusia yang berpuasa, namun tidak menghasilkan apa-apa selain lapar dan haus belaka (HR. Ahmad)."
    Tulisan ini tidak bermaksud untuk melarang berbahagia ketika
    masa-masa berbuka tiba, karena kita memang berhak untuk gembira ketika
    itu. Hanya sekedar ajakan untuk menyisakan sedikit waktu merenung dalam
    kebahagiaan itu. Belajar untuk memahami arti nikmat yang Allah berikan.
    Belajar memahami kebesaran karunia Allah dalam semangkuk hidangan
    ifthâr. Bahwa tidak semua orang seberuntung kita. Bahwa di saat mulut
    ini mengecap nikmat, di tempat lain mungkin banyak mulut yang merintih
    menahan derita.
    Syukur-syukur bila terucap sebait doa untuk mereka-mereka yang
    kurang beruntung. Lebih syukur lagi bila perenungan itu mampu
    melahirkan air mata tulus, menangisi karunia Allah, meratapi kelemahan
    diri mensyukuri segala pemberian-Nya. Sungguh, tidak ada kebahagian di
    atas kesuksesan meresapi makna pemberian-Nya. Wallâhu a'lam.
    avatar
    razi
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 119
    HP : 142
    Reputation : 0
    Registration date : 25.07.09
    Age : 26
    Lokasidepok

    Re: abdurrahman bin auf

    Post by razi on Thu Sep 03, 2009 10:41 am

    jika semua umat muslim khususnya orang-orang beriman merenung, memperhatikan dan melakukan seperti yang dilakukan sahabat nabi itu,maka tidak ada lagi kelaparan dimana-mana. sahabat yang sudah dijamin masuk surga aja masih memikirkan dan merenung hidangan ifthor yang disajikan ,apalagi kita yang belum dijamin apa-apa. Wallahu'alam bissawab

      Waktu sekarang Fri Mar 24, 2017 7:00 am