Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    T_T (Wahai pemimpin..)

    Share
    avatar
    santii
    Senior Member
    Senior Member

    Jumlah posting : 221
    HP : 356
    Reputation : 7
    Registration date : 04.05.09
    Age : 27
    Lokasijalan bango 3 pondok labu, cilandak, jakarta selatan

    T_T (Wahai pemimpin..)

    Post by santii on Tue Sep 08, 2009 10:30 am

    Di dunia, wahai para pemimpin engkau tersenyum-simpul. Seakan tak
    merasakan kepedihan-kepedihan yang dialami oleh orang-orang di
    sekelilingmu. Tangisan-tangisan yang menyayat, tak juga menyebabkan
    dirimu tergugah. Ratusan orang yang mati, karena musibah, masih juga
    tak menyebabkan takut. Tak juga mengetuk hatimu. Hatimu menjadi keras.
    Tak tersentuh kenyataan-kenyataan begitu pedih yang ada di sekitarmu.
    Dan, mereka masih terus tertawa, tanpa henti, karena memang mereka
    tak lagi memiliki hati. Mereka masih terus mengumbar janji-janji.
    Betapa, mereka nanti dihadapan Allah Azza Wa Jalla, pasti akan
    mendapatkan ‘jaza’ (balasan), dan bagaimana semua dapat mereka
    pertanggungjawabkan, ketika mereka sudah berkhianat dan tidak lagi
    dapat menjalankan amanah.
    Ketahuilah, apa yang dilakukan generasi salaf, dan salah satu
    diantaranya adalah Umar Ibn Khattab, penguasa (Khalifah), yang
    kekuasaannya meliputi jazirah yang amat luas dan begitu disegani oleh
    lawan-lawannya.
    Namun, kekuasaannya tiada mempunyai arti apa-apa dibandingkan dengan
    rasa takutnya kepada Allah Azza Wa Jalla. Umar yang lebih
    mengutakamakan keselamatan rakyatnya, hingga hatinya menjadi terguncang
    hebat, ketika ada seorang rakyatnya menderita akibat tertimpa gempa.
    Umar mendengar rintihan orang yang sakit, keluhan orang yang kehilangan
    haknya dan mengatakan kepadanya :
    “Takutlah anda kepada Allah, hai Umar!” Nah, pernahkah anda mendengar peristiwa seperti itu …? Di mana .. , dan bilamana .. ?
    Lalu, beberapa orang mengejar laki-laki itu dengan murka, tetapi
    Umar memanggil mereka agar kembali ke tempat semula. Di mana Umar duduk
    di dalam sebuah majelis, ketika seseorang masuk, dan menghampirinya
    seraya mengutarakan perasaannya, yang sangat tidak suka atas musibah
    yang dialaminya bersama keluarganya, akibat gempa.
    Orang itu, yang menyeruak masuk ke dalam majelis sambil menyemburkan
    kata-katanya : “Oh, Andakah Umar? Bencana dari Allah akan menimpamu,
    hai Umar!”. Tapi, setelah mengucapkan itu, laki-laki itu, pergi
    meninggalkan Umar. Orang yang pergi meninggalkan Umar itu, tersusul,
    dan oleh Umar disuruh duduk kembali. Lalu, orang yag mengatakan :
    “Bencana dari Allah akan menimpamu Umar!” itu ditanyai oleh Umar.
    “Katamu hai kawan, saya akan beroleh bencana dari Allah … , kenapa?”
    tanya Umar. “Ya”, ujar laki-laki itu, “Karena para pejabat dan pembesar
    Anda tidak menegakkan keadilan, malahan berbuat keaniayaan”.
    “Pejabat-pejabat saya yang mana yang Anda maksudkan?” tanya Umar.
    “Pejabat Anda yang berada di Mesir, yang bernama ‘Iyadh bin Ghanam”,
    ujar laki-laki itu. Tak lama setelah mendengarka pengaduan laki-laki
    itu, dipilihlah oleh Umar dua orang diantara para sahabatnya itu,
    kemudian Umar berpesan,” Berangkatlah tuan-tuan ke Mesir, dan segera
    bawa kemari ‘Iyadh bin Ghanam.” Dan, 'Iyad bin Ghanam oleh Umar dipecat
    sebagai gubernur, hanya kalalaiannya, tidak memperhatikan rakyatnya
    yang terkena musibah.
    Laki-laki yang tubuhnya tinggi besar, dan memiliki keberanian yang
    luar biasa, tiba-tiba menjadi gemetar, lunglai dan tak dapat tegak
    berdiri ketika mendengar, “Tidakkah Anda takut kepada Allah, wahai
    Umar?”
    Saat Umar menghadapi sakaratul maut, dia berkata kepada puteranya
    Abdullah, “Hai Abdullah, pindahkanlah kepalaku dari bantal ini,
    letakkanlah diatas tanah, semoga Allah menaruh belas kasihan padaku,”
    ucap Umar. Tak ada bencana yang lebih ditakuti oleh Umar, kecuali yang
    dikhawatirkan akan menimpa peruntungannya, selain bencana terkucil atau
    tejauhkan dari ridha Ilahi, dan menyimpang dari Rasul-Nya.
    Umar mencatat hari kelahirannya yang baru, ketika ia mengucapkan dua
    kalimah syahadat di depan Rasulullah Shallahu alaihi wa salam, “Saya
    bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan saya bersaksi bahwa
    Muhammad adalah utusan Allah”.
    Ia khawatir saat ucapan-ucapannya yang telah lalu itu, yang keluar
    dari mulutnya itu menyimpang dari garis kebenaran. Ia begitu
    mengkhawatirkan perbuatan-perbuatannya tergelincir dari jalan yang
    seharusnya dilalui,yaitu al-haq. Umar, begitu cemas, jika kehidupannya
    ternoda oleh dosa-dosa kehidupan, yang tak terampuni oleh Rabbnya.
    Maka, Umar hidupnya selalu penuh dengan kegelisahan, yang menghasilkan
    kemantapan jiwanya.
    Begitupun matanya, yang tak hendak terpejam, dan selalu diisinya
    dengan berpikir dan berkarya. Makannya sedikit, tak pernah kenyang
    perut dengan makanan, dan tak hendak makan makanan yang lezat. Makan
    hanya sekadar menunjang hidup. Ia jarang tidur,hingga boleh dikatakan
    ia selalu terjaga. Ungkapannya,
    “JIka saya tidur malam, berarti saya menyia-nyiakan diri saya. Dan,
    jika saya tidur siang, berarti saya mengabaikan rakyat jelata,” ujar
    Umar.
    Semua rasa malu, semua kecemasan dan ketakutan, semua kemauan baik
    dan cita-cita mulia, sebabnya tiada lain, hanyalah karena Umar bingung
    dan tiadk tahu apa yang akan dikatakannya kepada Rabbnya nanti di
    akhirat… Subhanallah.
    Bagaimana seorang pemimpin yang rakyatnya ratusan, mungkin
    ribuan,meninggal terkena musibah, tapi masih tersenyum-simpul, dan
    tidur nyenyak sambil bermimpi tentang kekuasaan? Bagaimana mereka di
    hadapan Allah Rabbul Aziz nanti? Wallahu ‘alam.

      Waktu sekarang Thu Jun 22, 2017 6:51 pm