Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    Tak Perlu Menunggu Kerlingan Nabi

    Share
    avatar
    lauthfi
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 51
    HP : 4
    Reputation : 0
    Registration date : 09.02.09
    Age : 36
    LokasiJakarta

    Tak Perlu Menunggu Kerlingan Nabi

    Post by lauthfi on Tue Feb 10, 2009 7:18 am

    (Sikap Kita Terhadap Penghina Nabi)

    Bagaimana sikap kita. Itu pertanyaan besar yang harus dijawab. Seiring semakin seringnya musuh Islam menghina Rasulullah dengan berbagai cara. Dan munculnya mereka yang ikut merestui perbuatan tersebut, seperti Ibnu Khatl yang merestui dua penyanyinya yang sering menyanyikan syair menghina Nabi.

    Benar, bahwa Allah telah menjaga Rasul-Nya. Tanpa kita pun Allah pasti menjaga kebesaran Nabi. Penghinaan demi penghinaan tidak pernah menambah beliau menjadi rendah. Yang ada justru sebaliknya. Rasulullah tetap mulia dan semakin mulia. Seperti jaminan Allah bagi Rasu­l-Nya,

    إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئينَ

    Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu) (Qs. al-Hijr: 95)

    Allah membuktikan bahwa cercaan itu sesungguhnya tidak mengenai Nabi. Seperti kisah Ummu Jamil istri Abu lahab yang suatu hari menggengam batu hendak melukai Nabi. Ia bertanya kepada Abu Bakar, "Hai Abu Bakar mana temanmu? Aku dengar ia menghinaku. Demi Allah, kalau aku temukan dia akan aku pukul ia dengan batu ini dan demi Allah aku adalah seorang penyair."
    Kemudian ia pun bersyair menghina Nabi,
    "Orang hina yang kami ingkari
    Urusannya kami abaikan
    Dan agamanya kami tinggalkan"

    Menyikapi tindakan Ummu Jamil itu Nabi berkata di hadapan para shahabat, "Tidakkah kalian heran bagaimana Allah menjauhkan dariku penghinaan Quraisy. Mereka mencaci Mudzammam (orang hina) dan aku ini Muhammad (orang mulia)." (HR. Bukhari no. 3340)
    Begitulah Allah melindungi Rasul-Nya dari kejahatan lisan musuh.

    Justru, mereka yang mengina Nabi akan terpuruk dalam kehinaan dan kesengsaraan sejak di dunia ini,

    إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَاباً مُهِيناً


    Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (Qs. al-Ahzab: 57)

    Tetapi berbeda, antara jaminan Allah terhadap Nabi-Nya, dengan tugas kita terhadap Nabi kita. Sebagai Rasul, beliau pasti mendapat jaminan Allah. Termasuk jaminan dilindungi dari caci maki musuhnya. Selain itu, sebagai Rasul beliau mempunyai hak yang harus kita tunaikan. Termasuk hak dibela kehormatannya.

    Apa tugas hak Nabi yang harus kita tunaikan berhubungan dengan kehormatan beliau yang diinjak-injak dan dilecehkan.

    Memaafkan bukan wewenang kita

    Ibnu Qayyim mempunyai pembahasan tentang boleh tidaknya kita mengampuni orang yang telah menghina Rasulullah. Berikut penjelasannya, "Termasuk hak Nabi untuk membiarkan (orang yang telah menghinanya). Tetapi tidak boleh bagi umatnya mengabaikan pemenuhan hak Nabi shallallahu alaihi wasallam. Hal ini merupakan perintah awal saat beliau diperintah untuk memaafkan. Beliau memaafkan saat itu untuk kemaslahatan persatuan agar tidak menakuti masyarakat dan agar tidak ada yang berkata bahwa Muhammad membunuh shahabatnya sendiri. Semua itu khusus pada saat Nabi masih hidup." (Zad al-Ma'ad 5/54 MS)

    Jadi jelas, bahwa pemaafan bagi penghina Nabi telah tertutup. Karena Nabi telah tiada. Hanya Nabi yang berhak untuk tidak menuntut haknya. Tetapi kita sebagai umatnya, wajib menunaikan hak Nabi.

    Pembelaan melalui media

    Media yang paling efektif di zaman Rasul adalah syair. Nabi memerintahkan para penyairnya untuk melakukan pembelaan dan balasan terhadap hinaan mereka. Yang paling pakar di bidang ini adalah Hassan bin Tsabit radhiallahu anhu.
    "Hinalah mereka, Hai Hassan. Jibril membelamu!" kata Nabi menyemangati Hassan.

    Inilah di antara syair Hassan menghina para penghina Nabi dan membela hak Rasul,

    Sampaikan pada Abu Sufyan dariku
    Pesan telah tiba saat bersembunyi
    Pedang-pedang kami menjadikanmu budak
    Abduddar para pemimpinnya adalah budak-budak wanita
    Kau hina Muhammad dan kini aku membelanya
    Dan karenanya di sisi Allah ada pahalaku
    Apakah kau hina dia padahal kau tidak sebanding dengannya
    Ini antara orang buruk dan orang baik
    Kau hina orang yang diberkahi, baik dan lurus
    Kepercayaan Allah yang sifatnya menepati janji
    Apakah orang yang menghina Rasul di antara kalian
    Dengan orang yang memuji dan menolongnya, sama?
    Sesungguhnya ayahku, ayahnya dan kehormatanku
    Untuk menjaga kehormatan Muhammad dari kalian
    Lisanku tajam tetapi tanpa cacat
    Dan lautanku tak ternodai apapun (Siroh Ibnu Hisyam 2/421)

    Hassan bukan saja menganggap perlu untuk mengembalikan cacian itu kepada empunya. Tetapi ia memaknai upaya pembelaan media bagian dari amal shaleh yang dicatat sebagai pahala. Begitulah, media harus bekerja untuk menunaikan hak Rasulullah. Dan siapapun yang mempunyai kemampuan di dunia media seperti Hassan mempunyai kewajiban tersebut.

    Masuk Islam, Taubat atau Mati!

    Kisah para penghina Nabi sepanjang sejarah menyampaikan pesan besar itu. Para ulama juga telah membahas dengan kesimpulan tersebut. Masuk Islam, taubat adalah perlindungan baginya. Seperti yang diberikan Nabi terhadap Abdullah bin Abi Sarh. Setelah keislamannya, maka dia pun menjadi bagian dari keluarga besar muslimin.

    Drama Pengampunan Nabi terhadap Abdullah bin Abi Sarh
    Abdullah bin Saad bin Abi Sarh yang sangat ketakutan karena namanya termasuk yang harus dibunuh. Ia pun meminta perlindungan Utsman bin Affan. Peristiwa tahun 8 H, pada penaklukan Kota Mekah itu menyimpan sepenggal kisah menarik. Utsman akhirnya bersedia untuk mengantarkan Abdullah bin Saad untuk menghadap Nabi dengan jaminan, "Ayo menghadap dengan saya, Nabi tidak akan membunuhmu insya Allah."

    Sambil bergandengan tangan di hadapan Rasul, Utsman membuka pembicaraan, "Ya Rasulullah, ibunya dulu menggendong saya dan menyuruh dia berjalan kaki. Menyusui saya dan menyapihnya. Mengusap saya dengan lembut dan mengabaikannya. Maka serahkan urusannya kepada saya."

    Rasulullah memalingkan wajahnya. Utsman menghadapkan wajahnya ke wajah Rasulullah dan mengulang kalimat-kalimat di atas. Begitulah setiap kali Nabi memalingkan wajahnya, Utsman menghadapkan wajahnya ke wajah Nabi dan mengulang kalimat-kalimat tentang jasa ibunya Abdullah bin Saad.

    Setelah beberapa kali Nabi terus memalingkan wajahnya, Utsman mendekati Nabi dan mencium kepala mulia Nabi dengan takzim dan penuh cinta. Sambil memohon, "Baiatlah dia, ayah dan ibuku sebagai tebusannya."

    Nabi akhirnya berkata, "Ya."

    Utsman dan Abdullah kemudian pergi meninggalkan majelis yang juga dihadiri shahabat yang lain itu. Dan Rasul pun membuka rahasia mengapa beliau diam dan memalingkan wajahnya, "Mengapa tidak ada satu di antara kalian yang menghampiri anjing (dalam riwayat lain: orang fasik) itu untuk membunuhnya?"

    Abbad bin Bisyr berkata, "Mengapa tidak engkau berikan isyarat kepadaku? Demi yang telah Mengutusmu dengan kebenaran, aku mengikuti gerak bola matamu menunggu engkau memberi isyarat agar aku bunuh dia."

    Rasulullah bersabda, "Aku tidak membunuh dengan menggunakan isyarat."

    Hari ini, Rasul sudah tidak bersama kita lagi. Dan memang, kita tidak perlu menunggu kerlingan Nabi.

    Sumber : Ust. Budi Ashari

      Waktu sekarang Thu Jun 22, 2017 7:06 pm