Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    Keshalihan seorang Jenderal Besar

    Share
    avatar
    lauthfi
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 51
    HP : 4
    Reputation : 0
    Registration date : 09.02.09
    Age : 36
    LokasiJakarta

    Keshalihan seorang Jenderal Besar

    Post by lauthfi on Sun Dec 20, 2009 10:06 pm

    Siapa yang tidak kenal Jenderal yang satu ini? ya siapa lagi kalau bukan Jenderal Sudirman. Beliau lahir dari keluarga petani kecil, di desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, pada tanggal 24 Januari 1916. Ayahnya seorang mandor tebut pada pabrik gula di Purwokerto, daerah keresidenan Banyumas. Sejak bayi Soedirman diangkat anak oleh asisten wedana (camat) di Rembang, R. Tjokrosunaryo.

    Sudirman tumbuh dalam keluarga jawa yang kental dengan nilai-nilai keislaman. Sejak kecil ia sudah biasa menghadiri berbagai pengajian yang diadakan di desanya. Ketika masih kanak-kanak, selepas maghrib, bersama anak-anak lainnya sudirman dengan membawa obor pergi ke Surau untuk
    mengaji. Ketika bersekolah di sebuah lembaga pendidikan milik
    Muhammadiyah, Perguruan Wiworo Tomo, Sudirman aktif dalam gerakan kepanduan Hizbul Wathan. Sudirman bersekolah dilembaga pendidikan yang dianggap liar oleh pemerintah Belanda sampai tahun 1934. Pada saat bersekolah ada 3 orang Guru yang mempengaruhi pembentukan karakternya, yakni Raden Sumoyo – yang memiliki pandangan
    nasionalis-sekuler, Raden Muhammad Kholil – memiliki pandangan nasionalis-islamis dan Tirtosupono – merupakan lulusan dari akademi militer Breda di Belanda. Kendatipun memiliki pandangan yang berbeda-beda namun ketiga Guru Sudirman tersebut sama-sama mengambil sikap non-kooperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda. Bahkan dalam
    hal agama, Sudirman dianggap lebih fanatik. Hal ini yang menyebabkan ia sering dipanggil dengan nama panggilan ‘Kaji‘ (Si Haji) oleh teman-temannya.

    Sudirman mengawali karir sebagai guru agama. Dia juga sering
    berkeliling untuk mengisi ceramah dan pengajian di berbagai tempat, dari Cilacap hingga Banyumas. Walau sibuk, namun Sudirman aktif di organisasi Pemuda Muhammadiyah, hingga dipercaya menjabat Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah dikeresidenan Banyumas.
    Karir Militer
    Peperangan pertama kali dilakoninya adalah pemboman Cilacap oleh Jepang pada 4 Maret 1942. Ketika PETA dibentuk, Sudirman bergabung ke dalamnya. Dia menjadi Daidancho di daerah Banyumas yang dikenal berani membela anak buahnya dari kesewenang-wenangan Jepang. Sebab itu dia dicurigai oleh Jepang. Sudirman pun mengumpulkan
    pasukannya sendiri dan berhasil merebut kekuasaan dari tangan Jepang tanpa pertumpahan darah. Dari pasukannya, Sudirman membentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat) sebagai cikal bakalnya TNI sekarang pada 5 Oktober 1945. Sudirman memimpin Resimen I/Divisi I TKR yang meliputi Karesidenan Banyumas. Sudirman diangkat menjadi Komandan Divisi V
    Daerah Banyumas oleh Letnan Jendral Urip Sumohardjo.

    Tak lama menjabat, Sudirman ditugaskan memukul mundur pasukan pemenang Perang Dunia II, Inggris dan NICA, dari Banyubiru, Ambarawa, di mana terdapat orang Amerika yang ditawan Jepang. Menurut perjanjian, Inggris hanya mendaratkan pasukan di Semarang. Namun Inggris ingkar dan menusuk
    hingga Ambarawa. Terjadilah pertempuran besar di Ambarawa yang kemudian dikenal dengan Palagan Ambarawa. Dengan bantuan penuh pasukan laskar santri yang dipimpin para kiai dari berbagai pesantren di Jawa Tengah, Sudirman berhasil memukul mundur pasukan Inggris/NICA hingga ke Semarang. Hal ini yang membuat dia diangkat menjadi Panglima TKR.
    Sebagai seorang ustadz yang terpanggil untuk berjuang membebaskan dan mempertahankan kemerdekaan negerinya dan menyakini jika perjuangannya merupakan jihad fi sabilillah. Sebab itu dalam situasi yang paling genting sekalipun tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Selain ibadah wajib, seperti shalat lima waktu dan sering menunaikan shalat lail dan puasa sunnah.

    “Jenderal Sudirman selalu menjaga ibadah-ibadahnya. Bahkan dalam keadaan yang sangat berbahaya bagi jiwanya. Dalam gerilya di selatan Yogya dalam perang kemerdekaan, Sudirman yang dalam kondisi sakit selalu menjaga shalatnya juga shalat malamnya. Bahkan tak jarang dia juga berpuasa senin & kamis. Di setiap kampung yang disinggahinya selalu mendirikan
    pengajian dan memberikan ceramah keagamaan kepada para pasukannya,” Tutur Mayor SGH. Bukhori, perwira Hisbullah.
    Kesholihan Sudirman sampai ke penjuru nusantara. Sebab itu para pejuang Aceh begitu mendengar panglimanya yang sholeh sakit, mereka segera mengirim bantuan berupa 40 botol obat suntik streptomisin guna mengobati penyakit paru-paru beliau.

    Sebagai pucuk pimpinan tentara, Jenderal Sudirman membangun jaringan yang kuat antara pasukannya dengan laskar-laskar yang berpusat di pondok-pondok pesantren. Saat pertempuran di Magelang dan kemudian di Ambarawa, dia
    sering terlihat ada di Payaman, Utara Magelang dan bekerjasama dengan pondok pesantren yang dipimpin Kiai Sirajd.
    Pada pertengahan 1946, Jenderal Sudirman mengunjungi Laskar Hizbullah-Sabilillah Surakarta yang hendak berangkat ke medan Jihad di Alas Tuo dan Bugen. Waktu itu diadakan pertemuan di kediaman Kiai Haji Adnan di Tegalsari. Dihadapan ratusan laskar, Jenderal Sudirman mengawali sambutannya dengan mengutip Al-Qur’an surat Ash-Shaf ayat
    10-12 yang kemudian diterjemahkannya sendiri : “Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang akan menyelamatkanmu dari siksa yang pedih. Yaitu, kamu beriman pada Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.
    Itulah yang terbaik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan memasukkan kamu ke Surga. Demikian itu adalah keberuntungan yang besar.”
    Sambutan Jenderal Sudirman sangat mengena di hati para laskar.
    Dalam setiap surat perintah, sambutan atau diskusi senantiasa
    mengutip ayat-ayat Al Qur’an atau hadist. Misal, pada 7 Juni 1946 di Yogyakarta, dalam rangka menanggapi dekrit presiden terhadap mobilisasi kekuatan Belanda, beliau berpesan : “Kita dasarkan perjuangan sekarang ini atas dasar kesucian, kami yakin, bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak akan melalaikan hamba-Nya yang memperjuangkan sesuatu yang adil berdasarkan atas kesucian bathin. Jangan cemas, jangan putus asa, meski kita sekalian menghadapi macam-macam kesukaran dan menderita segala
    kekurangan, karena itu, Kita insya Allah akan menang, jika perjuangan kita sungguh berdasarkan kesucian, membela kebenaran dan keadilan. Ingatlah pada firman Tuhan dalam Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 138 yang
    berbunyi : “Walaa tahinu walaa tahzanuu, Wa antumul a’aluna inkuntum mu’minin”, yang artinya “Jangan kamu merasa rendah, jangan kamu bersusah hati, sedang kamu sesungguhnya lebih baik jika kamu mukmin.”

    Pengetahuan Jenderal Sudirman tentang sirah Rasul SAW juga dalam, bahkan strategi Rasul diterapakannya.Perang gerilya yang dilakukan, tak luput dari mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Sewaktu berada di desa Karangnongko, setelah sebelumnya menetap di desa Sukarame, Panglima Besar Soedirman yang memiliki naluri seorang pejuang, menganggap desa tersebut tidak aman bagi keselamatan pasukannya. Maka beliau pun mengambil keputusan untuk meninggalkan desa
    dengan taktik penyamaran, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah besarta para sahabatnya saat akan berhijrah.
    Setelah shalat subuh, Pak Dirman yang memiliki nama samaran Pak De dengan beberapa pengawal pergi menuju hutan. Mantel yang biasa dipakai olehnya ditinggal dalam rumah di desa itu, termasuk beberapa anggota rombongan yang terdiri dari Suparjo Rustam dan Heru Kesser. Pagi harinya Heru Kesser segera mengenakan mantel tersebut dan bersama Suparjo Rustam berjalan menuju arah selatan, sampai pada sebuah rumah barulah mantel tersebut dilepas dan mereka berdua bersama beberapa orang secara hati-hati pergi menyusul Soedirman. Dan sore harinya pasukan Belanda dengan pesawat pemburunya memborbardir rumah yang sempat disinggahi Heru Kesser dan Suparjo Rustam, dan ini membuktikan betapa seorang Panglima sekaligus dai ini begitu menguasai taktik dan
    sejarah perjuangan dalam Islam.
    Sebuah perjuangan yang penuh dengan kateladanan, baik untuk menjadi pelajaran dan contoh bagi kita semua, anak bangsa. Perjalanan panjang seorang dai pejuang yang tidak lagi memikirkan tentang dirinya melainkan berbuat dan berkata hanya untuk rakyat serta bangsa tercinta. Penyakit TBC yang diderita, tidak menyurutkan langkah perjuangannya.
    Sampai akhir usianya, 38 tahun, Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dicintai rakyat menutup hidupnya tanggal 29 Januari 1950, tepat hari Ahad. Bangsa ini mencatat satu lagi pejuang umat, yang lahir dari umat dan selalu berjalan seiring untuk kepentingan umat.

    Sumber :

      Waktu sekarang Fri Oct 20, 2017 8:43 am