Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    Nasehat Dalam Mendidik Anak.

    Share

    Abu_Azzam
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 96
    HP : 9
    Reputation : 0
    Registration date : 09.02.09
    Age : 36
    Lokasips.minggu

    Nasehat Dalam Mendidik Anak.

    Post by Abu_Azzam on Thu Jan 21, 2010 3:18 pm

    Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai orang tua bertanggung jawab terhadap amanah ini. Tidak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar ; dan termasuk menghianati amanah Allah.

    Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Kumpulan dari beberapa rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat. Bagi seorang anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan mendapatkan pendidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, disinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.

    BAHAYA LALAI DALAM MENDIDIK ANAK
    Orang tua memiliki hak yang wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya. Demikian pula anak, juga mempunyai hak yang wajib dipikul oleh kedua orang tuanya. Disamping Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua. Allah juga memerintahkan kita untuk berbuat baik (ihsan) kepada anak-anak serta bersungguh-sungguh dalam mendidiknya. Demikian ini termasuk bagian dari menunaikan amanah Allah. Sebaliknya, melalaikan hak-hak mereka termasuk perbuatan khianat terhadap amanah Allah. Banyak nash-nash syar'i yang mengisyaratkannya. Allah berfirman.

    "Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya" [An-Nisa : 58]

    "Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhamamd) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui" [Al-Anfal : 27]

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    "Artinya : Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban terhadap yang dipimpin. Maka, seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya" [Hadits Riwayat Al-Bukhari]

    "Artinya : Barangsiapa diberi amanah oleh Allah untuk memimpin lalu ia mati (sedangkan pada) hari kematiannya dalam keadaan mengkhianati amanahnya itu, niscaya Allah mengharamkan sorga bagianya" [Hadits Riwayat Al-Bukhari]

    SEPULUH KESALAHAN DALAM MEDIDIK ANAK

    Meskipun banyak orang tua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya.

    Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua, atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.

    Lalai atau salah dalam mendidik anak itu bermacam-macam bentuknya ; yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan remaja.

    Berikut ini sepuluh bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

    [1]. Menumbuhkan Rasa Takut Dan Minder Pada Anak
    Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin dan lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut : Takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Misalnya takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita-cerita tentang hantu, jin dan lain-lain.

    Dan yang paling parah tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakut-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak-anak semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa sakit.

    [2]. Mendidiknya Menjadi Sombong, Panjang Lidah, Congkak Terhadap Orang Lain. Dan Itu Dianggap Sebagai Sikap Pemberani.
    Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi. Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya : takut berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka berbohong, atau rasa takut kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.

    [3]. Membiasakan Anak-Anak Hidup Berfoya-foya, Bermewah-mewah Dan Sombong.
    Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqomah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakah muru'ah (harga diri) dan kebenaran.

    [4]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak
    Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik.

    [5]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak, Ketika Menangis, Terutama Anak Yang Masih Kecil.
    Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.

    [6]. Terlalu Keras Dan Kaku Dalam Menghadapi Mereka, Melebihi Batas Kewajaran.
    Misalnya dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lainnya. Ini kadang terjadi ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.

    [7]. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran
    Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara. Misalnya : dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega menitipkan anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban dirinya. Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai hidup. Naa'udzubillah mindzalik

    [8]. Tidak Mengasihi Dan Menyayangi Mereka, Sehingga Membuat Mereka Mencari Kasih Sayang Diluar Rumah Hingga Menemukan Yang Dicarinya.
    Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas -waiyadzubillah-. Seorang anak perempuan misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya ia mencari perhatian dari laki-laki di luar lingkungan keluarganya. Dia merasa senang mendapatkan perhatian dari laki-laki itu, karena sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela menyerahkan kehormatannya demi cinta semu.

    [9]. Hanya Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya Saja.
    Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Bila kasih sayang tidak di dapatkan dirumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.

    [10]. Terlalu Berprasangka Baik Kepada Anak-Anaknya
    Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya. Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa hanyalan penyesalan tak berguna.

    Demikianlah sepuluh kesalahan yang sering dilakukan orang tua. Yang mungkin kita juga tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu, marilah berusaha untuk terus menerus mencari ilmu, terutama berkaitan dengan pendidikan anak, agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa depan mereka. Kita selalu berdo'a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah serta berakhlak mulia.

    ADAPUN NASEHAT NASEHAT UNTUK MENDIDIK ANAK ANTARA LAIN :

    Allah berfirman :

    “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka “ ( At – Tahrim : 6 )

    .Curahkanlah usahamu dalam mendidik anak yang tertua, agar dia bisa menjadi panutan bagi adik-adiknya. Sesekali waktu berilah dia kesempatan untuk mengawasi keluarga, dengan harapan dia merasa memiliki tanggung jawab dan sekaligus untuk membinanya.


    2.Janganlah engkau membiarkan anak-anakmu saling memasang jarak, sehingga membuatmu kesulitan untuk mengetahui pemikiran dan akhlak mereka. Dengan kedudukanmu sebagai bapak dan pendidik mereka yang pertama, engkau harus mengetahui segala sesuatu yang ada pada diri mereka, sehingga engkau bisa memberikan solusi yang tepat dari kesulitan yang dihadapi.


    3. Jika anak-anakmu meminta sesuatu yang belum bisa dipenuhi, maka perintahkanlah agar dia bersabar dan sampaikan pula manfaat sabar, agar dia terbiasa sabar.


    4. Biasakanlah anak-anakmu menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang muda, mencintai orang-orang miskin, menyeru kepada kebaikan, buatlah mereka lebih memprioritaskan amar ma’ruf nahi munkar.


    5. Jika engkau memberikan sesuatu yang menggembirakan anak-anakmu, maka mintalah agar mereka mendoakan surga dan keselamatan dari neraka, agar mereka mengerti bahwa di sana surga yang diminta dan neraka yang harus dijauhi.


    6. Buatlah dirimu dan anak-anakmu agar memberikan perhatian yang besar terhadap Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW bagi semua manusia agar kita membaca, mempelajari, mengajarkan, mengagungkan, memuliakan dan mengamalkannya.


    7. Jauhkanlah anak-anakmu dari pemborosan dan biasakanlah mereka hidup ekonomis. Dengan kata lain, ekonomis adalah jalan tengah antara kikir dan boros. Allah telah memerintahkan bersikap ekonomis dan melarang pemborosan serta kikir.



    FirmanNya:

    “ Dan, janganlah kalian jadikan tangan kalian terbelenggu pada leher kalian dan janganlah kalian terlalu mengulurkannya karena itu kalian menjadi tercela dan menyesal “ ( Al-Isra : 29)


    8. Janganlah engkau membuat anak-anakmu menyukai perhiasan, kecuali sebatas yang disyariatkan dan tidak menjurus kepada gaya hidup mewah, yang akhirnya hanya akan membuang-buang waktu untuk itu setelah dia dewasa. Sebab siapa yang berlatih dengan sesuatu, maka dia akan tumbuh terbiasa dengan sesuatu itu.


    9. Janganlah engkau berdoa bagi anak-anakmu kecuali berupa kebaikan dan petunjuk. Sebab doa orang tua bagi anaknya dikabulkan, dan katakanlah seperti yang dikatakan bapak kita Ibrahim AS :

    “ Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat “

    ( Ibrahim : 39 )


    10. Jangan meremehkan sikap anak-anakmu jika mereka membangkang perintahmu, kecuali mereka mengajukan alasan. Jika anakmu masih kecil janganlah memaksakan alasannya. Setelah itu tegaskan agar mereka tidak mengulanginya lagi.


    11. Janganlah terlalu bersikap keras terhadap anak-anakmu, kecuali jika ada pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah . Janganlah terlalu sering memukul karena dengan tindakanmu itu berarti engkau mendidik mereka seperti itu.


    12. Jika anak menghindarimu karena takut kepadamu, janganlah engkau lalai untuk tetap melindunginya.


    13. Janganlah engkau banyak mengumpat dan melaknat mereka, sehingga merekapun juga terbiasa, dan akhirnya mereka menjadi rusak. Dan engkau harus memberi penjelasan secara halus tetapi tegas.


    14. Janganlah engkau memberikan uang dalam jumlah yang banyak, sebab hal itu jauh lebih membahayakan dirinya daripada memberinya manfaat.


    15. Anak suka menonjolkan diri diantara teman-temannya, maka engkau harus menjadikan penonjolan itu dalam urusan agama dan akhlak. Usahakan agar engkau selalu shalat berjama’ah.


    16. Tunjukkan rasa kasih sayang, cinta dan perhatian terhadap urusannya, buatlah dia merasa bisa melepaskan diri dari kebodohan menuju kepintaran, dari kekanak-kanakan menuju kedewasaan, dan berikan pujian atas akhlak dan kebaikan yang dilakukannya.


    17. Jangan bosan memerintah anak-anakmu kepada kebaikan dan melarang dari keburukan, berusahalah dan lakukanlah terus menerus, jangan putus asa.



    Akhirnya , carilah makanan yang baik bagimu dan bagi anak-anakmu serta keluargamu, mohonlah pertolongan kepada Allah, carilah keridhaan-Nya tatkala engkau bekerja, berbaik sangkalah kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya.

    Firman Allah :

    “Dan, orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami. Dan, sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik “ (Al-Ankabut : 69 )

    Wallahu a'lam bishshawab.

      Waktu sekarang Tue Dec 06, 2016 7:51 am