Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    [Bulughul Maram - Kitab Nikah] Hadits ke-2

    Share
    avatar
    Abu_Azzam
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 96
    HP : 9
    Reputation : 0
    Registration date : 09.02.09
    Age : 36
    Lokasips.minggu

    [Bulughul Maram - Kitab Nikah] Hadits ke-2

    Post by Abu_Azzam on Tue Feb 10, 2009 1:52 pm

    Hadits ke-2

    Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya bersabda: "Tetapi aku sholat dan tidur, berpuasa dan berbuka, dan mengawini perempuan. Barangsiapa tidak suka dengan sunnahku, ia tidak termasuk (ummat)ku." Muttafaq Alaihi.

    Studi Sanad dan Riwayat
    Hadits di atas merupakan potongan dari hadits yang panjang. Hadits tersebut memiliki dua jalur periwayatan dari Anas, yaitu Humaid Ath Thawil dari Anas, dan Tsabit Al Bunani dari Anas.

    Adapun jalur pertama yaitu Humaid dari Anas, Imam Bukhari meriwayatkannya sebagai berikut:

    Tiga orang mendatangi kediaman istri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Mereka ingin menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah diberitahu, mereka menganggap remeh ibadah tersebut. Mereka mengatakan, "Di mana posisi kita dibandingkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam? Beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang?". Salah seorang di antara mereka mengatakan, "Aku bertekad akan melakukan shalat selamanya". Seorang yang lain menyahut, "Aku akan berpuasa selamanya tanpa berbuka". Seorang lainnya menyambung, "Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya".

    Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam datang, "Apakah kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Adapun aku, demi Allah, aku adalah manusia yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa. Akan tetapi aku sholat dan tidur, berpuasa dan berbuka. Aku menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku maka dia bukan termasuk di antara ummatku".

    Dari jalur Tsabit Al Bunani, Imam Muslim meriwayatkan hadits tersebut dengan redaksi sebagai berikut:

    Beberapa orang dari para sahabat datang ke rumah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menanyakan kepada istri beliau tentang amalan beliau yang tersembunyi. Sebagian di antara mereka mengatakan, "Aku takkan menikahi wanita", sebagian lagi mengatakan, "Aku takkan memakan daging", sebagian lagi mengatakan, "Aku takkan tidur di atas kasur".

    Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertahmid dan memuji Allah, lalu bersabda, "Ada apa dengan orang-orang yang mengatakan demikian dan demikian? Padahal aku sholat dan tidur, berpuasa dan berbuka, dan menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk di antara ummatku".

    Terdapat sedikit perbedaan dalam kedua riwayat di atas yang seolah-olah tampak bertentangan. Meninggalkan makan daging tentu saja berbeda dengan berpuasa secara terus-menerus. Begitu juga menghabiskan seluruh malam untuk shalat berbeda dengan meninggalkan tidur di atas kasur. Namun kejadian sebenarnya adalah terjadi lebih dari sekali, dan orang-orang yang bertanya lebih dari tiga orang sebagaimana akan kita bahas di depan[1].

    Sebab Munculnya Hadits
    Sebab munculnya hadits tersebut telah disebutkan dalam hadits itu sendiri, yaitu mengenai datangnya tiga orang sahabat yang menanyakan tentang ibadah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Akan tetapi, dalam kedua riwayat itu tidak disebutkan siapa tiga orang tersebut.

    Dalam riwayat Abdur Razzaq disebutkan secara mursal oleh Sa'id bin Musayyab bahwa ketiga orang itu adalah Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Amr bin Ash dan Utsman bin Mazh'un. Disebutkan juga dalam riwayat lain nama-nama sahabat yang mendatangi beliau selain mereka bertiga. Akan tetapi riwayat-riwayat tersebut tidak dapat dijadikan sandaran.

    Perbedaan Riwayat Hadits
    Pertama, bagaimana mengkompromikan riwayat-riwayat yang berlainan tersebut? Jawabnya adalah terdapat kemungkinan bahwa ketiga orang tersebut adalah orang-orang yang bertanya secara langsung, sehingga hadits tersebut diattibutkan kepada mereka. Adapun selain mereka, karena mereka menanyakan hadits yang sama maka mereka juga diikutsertakan dalam penisbatan hadits itu[2].

    Kedua, dalam riwayat Muslim disebutkan: "Maka beliau bertahmid dan memuji Allah, lalu bersabda: Ada apa dengan orang-orang yang berkata demikian dan demikian?". Dari sini terdapat dugaan bahwa sabda beliau tersebut disampaikan dalam khutbah Jum'at. Padahal dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan bahwa perkataan tersebut disampaikan secara langsung kepada yang bersangkutan dalam pembicaraan khusus.

    Jawabnya adalah bahwasannya peristiwa tersebut terjadi di lebih dari satu tempat dan satu waktu. Beliau menyampaikan hadits itu secara umum dalam khutbah Jum'at dan di waktu lain secara khusus. Oleh karena itu, dalam riwayat khutbah Jum'at, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak menyebutkan nama-nama mereka secara langsung demi menjaga nama baik mereka dan sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada mereka.

    Ketiga, sabda beliau "Barangsiapa tidak suka dengan sunnahku, maka ia tidak termasuk (ummat)ku". Kalimat ini seolah-olah memberikan pemahaman tentang hukuman yang sangat berat melebihi akal sehat. Jawabnya, apabila ketidaksukaan itu muncul disebabkan oleh takwil yang keliru, maka orang tersebut dimaafkan. Jadi makna kalimat "tidak termasuk (ummat)ku" adalah "tidak mengikuti jalanku". Artinya ia masih dihukumi sebagai seorang muslim dan tidak keluar dari Islam.

    Adapun jika ketidaksukaan itu muncul karena penolakan dan kekukuhan yang mengakibatkan orang tersebut meyakini bahwa apa yang dilakukannya itu lebih baik daripada sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, maka dia telah dianggap telah keluar dari Islam (murtad). Karena keyakinan semacam itu adalah salah satu bentuk kekufuran[3].

    Keterangan
    Hadits di atas menjelaskan tentang semangat para sahabat dalam melakukan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala sehingga mereka ingin menanyakan secara langsung perihal ibadah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada istri beliau. Namun ketika diberitahu tentang ibadah beliau, mereka merasa bahwa amalan tersebut tidaklah berat menurut mereka. Tidak disebutkan secara jelas bagaimana mereka menyatakan ketidakberatan itu. Namun tampak dari perkatan mereka "Di mana posisi kita dibandingkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lampau maupun yang akan datang?". Lalu setiap orang dari mereka bertekad untuk memperkuat ibadah mereka dengan melakukan amalan-amalan yang berat.

    Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam lalu menjelaskan posisi beliau sebagai seorang hamba yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepadaNya. Kemudian beliau meluruskan kekeliruan-kekeliruan yang diyakini oleh para sahabatnya. Beliau menerangkan bahwa apa yang disangka oleh para sahabatnya yaitu berupa menyiksa diri dengan beribadah tidaklah dibenarkan dalam Islam, dan rasa takut kepada Allah tidak dikhususkan bagi orang-orang yang berdosa saja. Bahkan orang-orang shaleh justru memiliki rasa takut yang lebih besar kepada Allah karena mereka memahami kedudukan Allah di mata mereka.

    Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (QS. An-Nazi'at: 40-41)

    Ibadah bukan saja mewujudkan ungkapan dari rasa takut seseorang kepada Allah, namun juga merupakan manifestasi rasa syukur terhadap nikmat-nikmat Allah.

    Hukum Fikih
    Hadits tersebut memberikan motivasi bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk menikah. Hadits itu juga menunjukkan bahwa menikah merupakan salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, yaitu jalan ketaatan dan cara mendekatkan diri kepada Allah yang benar sesuai syariat.
    Menikah lebih utama daripada menyendiri untuk beribadah, karena menikah sendiri merupakan salah satu bentuk ibadah. Ini merupakan pendapat mazhab Hanafiyah. Adapun menurut Syafi'iyah, menyendiri untuk beribadah lebih utama daripada menikah. Namun bagaimana pun, menikah merupakan amalan yang sangat mulia. Bersusah payah dalam mencari nafkah untuk membiayai keluarga merupakan amalan yang terpuji dan dapat mendatangkan pahala jika diniatkan untuk beribadah kepada Allah. Di samping itu, menikah juga menjadi upaya dalam rangka menghasilkan keturunan shaleh yang akan membangun peradaban umat.
    Menyiksa diri dengan beribadah merupakan bid'ah. Islam mengajarkan keseimbangan dalam beribadah. Memperbanyak tidak sama dengan menyiksa diri, karena memperbanyak ibadah justru diperintahkan. Akan tetapi melakukan ibadah secara berlebihan sehingga mengabaikan ibadah-ibadah lainnya itu yang dilarang.
    Perintah mengikuti pola hidup orang-orang shaleh. Dan orang yang paling shaleh di dunia ini adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, kemudian setelah itu para ulama. Kehidupan orang-orang shaleh mencerminkan ajaran Islam yang benar sesuai petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
    Tidak dibenarkan berlebih-lebihan dalam perkara yang pada asalnya diperbolehkan, baik itu berlebih-lebihan dalam menggunakannya maupun meninggalkannya[4]. Terlalu berlebihan dalam beribadah akan mengakibatkan seseorang menjadi bosan dan futur. Begitu juga berlebih-lebihan dalam meninggalkan amalan kebaikan juga dapat mengakibatkan seseorang menjadi malas melakukan ibadah. Sebaik-sebaik perkara adalah pertengahannya.
    Perintah untuk memegang erat sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan larangan dari bersikap membangkang. Hadits ini menjadi dalil batalnya ajaran kerahiban yang menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah yang bersifat vertikal dengan mengenyampingkan ibadah horisontal. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita jalan yang lurus dan berada pada tengah-tengah. Beliau berbuka demi mempersiapkan kekuatan untuk berpuasa. Beliau tidur demi memulihkan tenaga agar dapat melakukan shalat. Beliau juga menikah untuk menjaga kesucian diri dan menyalurkan dorongan seksual pada jalan yang benar sekaligus memperbanyak keturunan. Beliau mengajarkan pentingnya memenuhi kebutuhan jasmani dan ruhani secara bersamaan. Wallahu A'lamu Bish Showab.

    [1] Fathul Bari juz 9 hal. 82
    [2] ibid
    [3] Fathul Bari 9/83
    [4] Fathul Bari: 9/91

      Waktu sekarang Thu Jun 22, 2017 6:56 pm