Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    Bercermin di Telaga Asiyah dan Maryam

    Share
    avatar
    panji_rachman
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 86
    HP : 10
    Reputation : 0
    Registration date : 06.02.09
    LokasiParepare

    Bercermin di Telaga Asiyah dan Maryam

    Post by panji_rachman on Wed Feb 11, 2009 2:29 pm

    “Dan Allah membuat istri Fir'aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika istri Fir'aun berkata, "Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga. Selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim." (Perumpamaan yang lain bagi orang-orang beriman adalah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat,” (QS at-Tahrim: 11-12).

    Kisah Asiyah binti Muzahim, istri Fir'aun dan Maryam binti Imran, terukir indah dalam al-Qur`an. Ayat ini menuturkan keshalihan keduanya dan mempersaksikan keimanan yang berakar kokoh dalam relung kalbu keduanya. Sehingga pantas dikatakan sebagai wanita yang indah dalam sebutan dan ingatan. Asiyah dan Maryam, dua dari sekian sosok teladan bagi para wanita dan istri kaum Mukminin.

    Al-Imam ath-Thabari dalam kitab tafsirnya memaparkan, “Allah yang Maha Tinggi berfirman bahwasanya Dia membuat permisalan bagi orang-orang yang membenarkan Allah dan mentauhidkan-Nya, dengan istri Fir'aun yang beriman kepada Allah, mentauhidkan-Nya, dan membenarkan Musa. Sementara wanita ini di bawah penguasaan suami yang kafir, satu dari sekian musuh Allah. Namun kekafiran suaminya itu tidak memudharatkannya, karena ia tetap beriman kepada Allah. Sementara, termasuk ketetapan Allah kepada makhluk-Nya adalah seseorang tidaklah dibebani dosa orang lain, dan setiap jiwa mendapatkan apa yang ia usahakan," (Jami'ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an/ Tafsir Ath-Thabari, 12/162).

    Pada sosok Asiyah dan Maryam, ada cahaya teladan indah bagi para istri yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah SWT dan hari akhir. Keduanya dijadikan matsal (contoh) untuk mendorong kaum mukminin dan mukminat agar berpegang teguh dengan ketaatan dan kokoh di atas agama. (Al-Jami' li Ahkamil Qur`an/ Tafsir Al-Qurthubi, 9/132)

    Seorang istri yang shalihah akan bersabar dengan kekurangan suaminya. Sabar dengan kesulitan hidup bersama suaminya. Tidaklah ia mudah berkeluh kesah atau mengeluhkan suaminya kepada orang lain. Apalagi sampai bergibah tentang sang suami. Kekurangan suaminya dan kesempitan hidup bersamanya, ladang bersyukur kepada Allah SWT.

    Asiyah bintu Muzahim memang sosok istri yang tegar. Ketagaran yang berhadapan langsung dengan sosok kufur sekelas Firaun tentu bukan sesuatu yang gampang. Ketika Fir'aun mengetahui istrinya beriman, Fir'aun keluar menemui kaumnya seraya bertanya, "Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah bintu Muzahim?" Mereka pun memujinya. Dengan congkak Fir'aun menimpali, "Ia menyembah Tuhan selain aku." Kaumnya berkata, "Kalau begitu, bunuhlah dia! "

    Lalu Fir'aun membuat pasak-pasak. Kedua tangan dan kedua kaki istrinya diikat, dengan pongah Firaun menyiksanya di bawah terik matahari. Kepongan Fir'aun membuat para malaikat menaungi Asiyah dengan sayap-sayap mereka. "Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di dalam surga," pinta Asiyah kepada Rabbnya.

    Doa Asiyah yang terzalimi ini didengar. Allah membangunkan sebuah rumah di surga. Rumah itu nanmpak jelas di pelupuk mata Asiyah. Asiyah bahagaia, siksaan yang menderanya sirna berubah tawa. Fir'aun heran, tak memahami apa yang dialami Asiyah. "Tidakkah kalian heran dengan kegilaan Asiyah? Disiksa malah tertawa," katanya.

    Beratnya siksaan sebenarnya peluang untuk mengemis kasih kepada sesama. Tapi Asiyah tidak. Baginya semua semu dan sesaat. Ia hanya berharap kasih dan pertolongan dari Yang Maha Kasih dan Penolong. Asiyah yakin, doanya didengar. Pasti diselamatkan dari siksaan yang ditimpakan Fir'aun dan kaumnya. Allah juga mendengar, pintanya agar tidak melakukan kekufuran seperti Fir'aun dan pengikutnya yang dungu. Dan Asiyah faham, taruahnnya adalah nyawa.

    ***
    Demikian juga dengan Maryam. Ia sosok istri yang selalu menjaga kesucainnya. Tidak keluar rumah kecuali seizin suaminya. Di luar rumah, ia menjaga diri dari ikhtilat dan khalwat (berbaur dan berdua-duan) dengan laki-laki bukan mahramnya. Tidak berbicara dengan lelaki asing kecuali terpaksa dengan tidak melembutkan suara. Tidak memandang yang diharamkan Allah SWT.

    Lihatlah, ungkapan kesuciannya tertoreh jelas dalam al-Qur'an. Diabadikan oleh Dzat Yang Maha Abadi. "Bagaimana aku bisa memiliki seorang anak laki-laki sedangkan aku tidak pernah disentuh oleh seorang manusia (laki-laki) pun dan aku bukan pula seorang wanita pezina," (QS Maryam: 20)

    Tak hanya itu, Maryam adalah wanita shalihah yang tekun beribadah. Ketekunnya pun mendapat sanjungan Allah SWT. Bahkan memilih-Nya, lalu menempatkannya di atas seluruh wanita. Ingatlah ketika Jibril berkata, "Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, mensucikan dan melebihkanmu di atas segenap wanita di alam ini (yang hidup di masa itu)," (QS Ali 'Imran: 42). Bahkan Rasulullah saw memberi apresiasi kepadanya. "Cukup bagimu dari segenap wanita di alam ini (empat wanita, yaitu:) Maryam putri Imran, Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad, dan Asiyah istri Fir'aun."

    Kemudian, kisah Asiyah maupun kisah Maryam terdapat rahasia-rahasia indah yang sesuai dengan konteks surat ini. Surat ini diawali dengan menyebutkan istri-istri Nabi saw dan peringatan kepada mereka yang saling bahu membahu menyusahkan Rasul saw. Bila istri-istri Nabi saw tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta tidak menginginkan hari akhirat, keberadaaanya sama dengan istri Nabi Nuh as dan istri Nabi Luth.

    Menurut Yahya bin Salam, Allah membuat perumpamaan pada kisah Nabi Nuh dan Nabi Luth sebgai peringatan bagi Aisyah ra dan Hafshah ra. Kemudian keduanya dianjurkan berpegang teguh dengan penuh ketaatan.

    Selain itu, Maryam tidak mendapatkan mudharat sedikit di sisi Allah dengan tuduhan keji dari Yahudi dan musuh-musuh Allah SAW. Begitu pula sebutan jelek untuk Isa, putra Maryam, Allah SAW sucikan keduanya dari tuduhan tersebut.

    Bahkan perlakuan jahat dan tuduhan keji itu tidak lah memberi mudarat bagi keduanya. Maryam tetaplah sebgai seorang ash-shiddiqah al-kubra (wanita yang sangat benar keimanannya). Bahkan tetaplah bergelar wanita pilihan di atas segenap wanita di dunia ini. Demikin juga dengan Isa putra Maryam as tidak mendapatkan mudarat atas tuduhan orang-orang fajir dan fasik terhadapnya.

    Di ayat ini juga ada semacam hiburan bagi Aisyah Ummul Mukminin ra. Tuduhan yang dialaminya dari orang-orang munafik pada darasnya pernah dialami pendahulunya, Marya ra. Termasuk kita, yang mungkin masih berproses dalam membenahi iman kepada Allah tak akan luput dari kekejian seperti ini walaupun dam tingkat dan prosentase yang berbeda tentunya.

      Waktu sekarang Tue Oct 24, 2017 4:32 pm