Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    Cinta Yang tak Rumit

    Share

    yu2n
    Senior Member
    Senior Member

    Jumlah posting : 315
    HP : 321
    Reputation : 5
    Registration date : 06.02.09
    Age : 28
    Lokasijakarta

    Cinta Yang tak Rumit

    Post by yu2n on Mon Jun 01, 2009 7:03 am

    Cinta yang Tak Rumit

    (Helvy Tiana Rosa)

    Apa yang menyebabkan kita menyapa atau tidak menyapa, saat bertemu
    seseorang? Kebanyakan kita menyapa karena kita mengenal atau minimal
    mengetahui seseorang itu. Bisa juga karena kita menyukai atau
    menghormati
    orang tersebut, karena memang kebiasaan, atau punya keperluan. Mungkin
    juga
    sekadar basa basi. Apa pun itu, saya belajar banyak soal ini dari
    seorang
    anak kecil yang berbeda umur 26 tahun dari saya.

    Setiap hari saat berjalan kaki menuju sekolahnya yang tak begitu jauh
    dari
    rumah, Faiz akan melewati deretan panjang rumah yang ada di sekitar
    kami.
    Empat tahun yang lalu, ketika Faiz masih TK, saya takjub menyaksikan
    bagaimana cara ia menyapa! Semua tetangga yang kebetulan dilewati atau
    ditemuinya di jalan, tak akan luput dari teguran ramah disertai senyum
    lebar Faiz.

    "Selamat pagi, Pak, selamat pagi, Bu...."

    "Assalaamu'alaikum. ..."

    "Mari Oma, mari Opa..."

    "Dari mana, Tante?"

    "Wah hari ini Kakak berseri sekali!"

    "Mau kuliah, Bang?"

    "Eh, ketemu adik cakep. Mau kemana pagi-pagi sudah rapi?"

    Dan seterusnya.. ..

    Saat ia duduk di kelas II SD, saya pernah bertanya pada Faiz," Mas
    Faiz,
    apa kamu tak lelah menyapa begitu banyak orang setiap pagi?"

    Faiz tertawa. "Tidaklah, Bunda. Aku senang karena senyum dan sapaku
    mungkin bukan mengawali pagiku saja. Tapi mengawali pagi orang lain.
    Lagipula senyum itu kan sedekah, Bunda."

    Saya nyengir. Pernyataan yang unik dari anak yang waktu itu belum
    berumur
    delapan tahun. "Subhanallah. Kalau dihitung dengan uang, sedekahmu
    mungkin
    sudah milyaran," ujar saya sambil mencium pipi Faiz yang memerah.

    Setiap kali hadir pada arisan yang diadakan ibu-ibu sekitar rumah,
    mereka
    kerap membicarakan Faiz.
    "Waduh, Faiz itu ramah sekali ya, Bu. Kalau bertemu saya selalu
    menegur
    lebih dulu, senyumnya manis sekali."

    "Kok bisa seperti itu sih, Bu? Bagaimana mendidiknya? "

    Saya tersenyum. Bagaimana mengatakannya? Sesungguhnya saya tak pernah
    mendidik Faiz secara khusus untuk menyapa dan tersenyum. Sayalah yang
    banyak
    belajar dari Faiz!

    Terbayang lagi berbagai peristiwa yang terjadi sejak Faiz mulai duduk
    di
    bangku SD.

    Ketika ia ada di teras rumah, semua pengemis yang lewat selalu
    dipanggilnya, diajak makan dan minum. "Hari ini di rumah masak sop dan
    perkedel." Atau "Bapak mau bawa kopi untuk di jalan biar tidak
    mengantuk?
    Mau teh manis dingin?" Ia akan berlari ke kamar, mengambil celengan dan
    mengeluarkan lembaran kertas dari sana untuk diberikan pada mereka.

    Belum lagi, semua tukang jualan, tukang sol sepatu, yang lewat pun
    disuruh
    mampir. Ada saja yang ditawarkannya. "Istirahat dulu di sini, Pak. Kan
    capek. Hari panas sekali. Sini, makan kue dan minum dulu. Atau mau
    makan
    nasi?" Selain itu ia pun akan bisik-bisik pada anggota keluarga
    lainnya
    untuk membeli sesuatu dari tukang jualan itu, meski kami tak terlalu
    membutuhkannya. "Apa salahnya sih menolong orang?" ujarnya.

    Maka di rumah mungil yang kami tempati, tak pernah ada hari di mana
    kami
    memasak sekadar pas untuk keluarga. Selalu ada tamu-tamu istimewa yang
    entah
    siapa. Faiz mengundang mereka secara tak terduga.

    "Ikhlas yaaa, Bunda...," katanya sambil tersenyum manis.

    Lalu apakah ada lagi yang bisa saya ucapkan, meski dengan terbata?


    Sederhana.

    Polos.

    Nyata.

    What a real great simple life..

    Sumber : yahoo groups AIr34

      Waktu sekarang Sun Feb 19, 2017 11:37 pm