Bersama Anda Membangun Islam

Login

Lupa password?

Like/Tweet/+1

Latest topics

» Newbie!!... silahkan perkenalkan dirinya disini... ^^
Mon Oct 24, 2011 5:09 am by raden galuh agung permana

» update forum 2
Wed Sep 14, 2011 10:00 am by Admin

» Resep Kue Pernikahan
Sat Jun 04, 2011 12:42 pm by aisyah salimah

» Hidup Tak Kenal Kompromi
Sat Jun 04, 2011 11:54 am by aisyah salimah

» Rumah Dunia VS Akhirat
Sun May 22, 2011 11:59 pm by aisyah salimah

» Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Sat May 21, 2011 3:48 pm by aisyah salimah

» Cara Youtube tanpa buffer tanpa software
Tue May 10, 2011 8:16 pm by kholis

» tok tok tok...!
Mon May 09, 2011 7:43 pm by santii

» catatan da'wah
Sat May 07, 2011 10:08 pm by nadiachya

Gallery


Top posting users this month

Top posting users this week


    Saat jasad tak kuat tegap, ruh hampa meratap, langkah pun kian goyah dalam perjalanan Da'wah

    Share

    aisyah salimah
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 58
    HP : 86
    Reputation : 2
    Registration date : 11.07.09
    Age : 26
    LokasiKelapa Dua

    Saat jasad tak kuat tegap, ruh hampa meratap, langkah pun kian goyah dalam perjalanan Da'wah

    Post by aisyah salimah on Wed Mar 10, 2010 12:04 pm

    Teruntuk mujahid - mujahidah seperjuangan, mari terus melangkah ...

    Semoga rahmat dan hidayah Allah menaungi kita semua agar langkah kaki kita tidak akan berhenti sampai di sini. Langkah kaki kita tidak akan berhenti baik sekarang maupun nanti, sampai akhirnya nyawa terpisah dari raga ini..

    Ini kisah seorang mad'u yang kian putus asa dengan harapan dalam perjalanan panjang da'wahnya . . ana ambil dari notes teman ana, semoga bisa bermanfaat . .

    “Akhi, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da’wah. Tapi belakangan rasanya
    semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah
    banyak pula yang aneh-aneh…” Begitu keluh kesah seorang kader dakwah
    kepada murobbinya di suatu malam.
    Sang murobbi hanya terdiam, mencoba
    terus menggali semua kecamuk dalam diri mad’unya. “Lalu, apa yang ingin
    antum lakukan setelah merasakan semua itu “? sahut sang murobbi setelah
    sesaat termenung.

    “Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah
    ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tak Islami.
    Juga dengan organisasi da’wah yang ana geluti ; kaku dan sering
    mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana lebih baik
    sendiri saja..” jawab ikhwah itu.

    Sang murobbi termenung kembali.
    Tak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap
    terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak
    awal. “Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan
    luas, kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang,
    kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu,
    apa yang antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan ?” Tanya sang
    murobbi dengan kiasan bermakna dalam.

    Sang mad’u terdiam
    berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam
    melalui kiasan yang amat tepat.

    “Apakah antum memilih untuk
    terjun ke laut dan berenang sampai tujuan “? sang murobbi mencoba
    memberi opsi. “Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa
    senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut,
    atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa
    kekuatan antum untuk berenang sampai tujuan ? Bagaimana bila ikan hiu
    datang ? Darimana antum mendapat makan dan minum ? Bila malam datang,
    bagaimana antum mengatasi hawa dingin ? serentetan pertanyaan
    dihamparkan di hadapan sang ikhwan tersebut.

    Tak ayal, sang
    ikhwan menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan
    sedemikian. Kekecewaannya kadang memuncak, namun sang murobbi yang
    dihormatinya justru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengan
    keinginannya.

    “Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan da’wah
    adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah SWT ?” ( Pertanyaan
    menohok ini menghujam jiwa sang ikhwah. Ia hanya mengangguk. Bagaimana
    bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu
    ternyata mogok ? antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu
    tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya ? Tanya sang murobbi
    lagi.

    Sang ikhwah tetap terdiam dalam sesenggukkan tangis
    perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya …” Cukup akhi, cukup. Ana
    sadar. Maafkan ana, Insya Allah ana akan tetap istiqomah. Ana berda’wah
    bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana
    diperhatikan. . Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing.
    Biarlah ana tetap berjalan dalam da’wah. Dan hanya jalan ini saja yang
    akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- Nya. Biarlah segala
    kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana ..” sang mad’u
    berazzam di hadapan sang murobbi yang semakin dihormatinya.

    Sang
    murobbi tersenyum. “Akhi, jama’ah ini adalah jama’ah manusia. Mereka
    adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik
    kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka
    adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan untuk berda’wah. Dengan
    begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan..” papar
    sang murabbi.

    “ Bila ada satu-dua kelemahan dan kesalahan
    mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah
    ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah
    kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap
    da’wah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik
    dari mereka.
    Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi
    lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidaksepakatan
    selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah da’wah ini dapat
    berjalan baik “? sambungnya panjang lebar.

    Sang mad’u termenung
    merenungi setiap kalimat murobbinya. Azzamnya memang kembali menguat.
    Namun ada satu hal tetap bergelayut di hatinya. “Tapi, bagaimana ana
    bisa memperbaiki organisasi da’wah dengan kapasitas ana yang lemah ini
    ?” sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

    “Siapa
    bilang kapasitas antum lemah ? Apakah Allah mewahyukan kepada antum ?
    Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tak ada yang bisa
    menilai bahwa yang satu lebih baik dari yang lain !” sahut sang murobbi.

    “Bekerjalah
    dengan ikhlas. Berilah taushiyah dalam kebenaran, kesabaran, dan kasih
    sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena
    peringatan selalu berguna bagi orang yang beriman. Bila ada sebuah isu
    atau gossip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala
    ghibah antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang
    mantan budak hina menemui kemuliaannya…”

    Malam itu sang mad’u
    menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama’ah
    dalam mengarungi jalan da’wah.

    Kembalikan semangat itu
    saudaraku, jangan biarkan asa itu hilang, dihempas gersangnya debu
    ‘wahn’ yang begitu kencang menerpa. Biarkan amal-amal ini semua menjadi
    saksi, sampai kita diberi satu dari dua kebaikan oleh ALLAH SWT:
    kemenangan atau mati syahid..


    TauffaN
    Senior Member
    Senior Member

    Jumlah posting : 254
    HP : 264
    Reputation : 12
    Registration date : 05.02.09
    Age : 29
    LokasiKapuk Valley, margonda depok

    Re: Saat jasad tak kuat tegap, ruh hampa meratap, langkah pun kian goyah dalam perjalanan Da'wah

    Post by TauffaN on Wed Mar 10, 2010 1:37 pm

    .....
    “Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan “? sang murobbi mencoba memberi opsi. “Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang sampai tujuan ? Bagaimana bila ikan hiu datang ? Darimana antum mendapat makan dan minum ? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin ? serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang ikhwan tersebut.

    mantaf perumpamaan yang bagus dari sang murabbi, jamaah tarbiyah, lembaga dakwah,... hanya sebuah kendaraan kita utnuk mencapai suatu tujuan, terkadang kendaraan yang kita tumpangi bagus tapi terkadang tidak, sebenernya tak ada kendaraan bisa juga mencapai tujuan, tapi langkahnya akan menjadi sangat susah, inilah nikmat suatu jamaah, memudahkan bukanlah menyusahkan,....

    nice posting


    btw ini ngarang sendiri apa copas? kalo bener copas tulung sumbernya dimasukkan , dan dirapihkan...


    _________________
    "Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain." Pliss Klik Saya

    aisyah salimah
    Jr. Member
    Jr. Member

    Jumlah posting : 58
    HP : 86
    Reputation : 2
    Registration date : 11.07.09
    Age : 26
    LokasiKelapa Dua

    Re: Saat jasad tak kuat tegap, ruh hampa meratap, langkah pun kian goyah dalam perjalanan Da'wah

    Post by aisyah salimah on Wed Mar 10, 2010 2:18 pm

    baca dari awal nda?

    ana ambil dari notes teman, entah kisahnya atau bukan, ana kurang tahu ..
    afwan

    Sponsored content

    Re: Saat jasad tak kuat tegap, ruh hampa meratap, langkah pun kian goyah dalam perjalanan Da'wah

    Post by Sponsored content Today at 6:52 pm


      Waktu sekarang Thu Dec 08, 2016 6:52 pm